Jumat, 25 Juni 2010

Sajak Leo Kelana

Sajak Leo Kelana

Maut dan Kenangan

Kita sudahi saja

Sampai di sini

Kemas hatimu

Biar kupergi

Jangan ingat tentang kita;

Katamu berkaca

Padahal maut tak pernah bisa

Mengenang apa-apa

Ini hari makin terasa asing

Sore pun lekas menjadi petang

*

Aku

Aku dipenjara

Langit buta

Detak jantung berirama

Tetes air dalam gua

Sepi menekan

Paru-paru mendingin

Mata menjalang

Tak jua terpejam

Ini malam makin gulita

Ini badan tambah sengsara

*

Kertas

Biarkan kertas ini terjaga

Menanti apa saja

Menerima segala

Pena dan kata

Tanpa jeda

Tanpa tanya

Serupa aku?

Mereguk takdir tanpa ragu!

*

Pena dan Pisau

Aku berhadapan dengan kata

Sama sendiri, lalu menyepi

"Adakah itu pena menatapku tajam?"

Pisau bertanya sambil mengunyah puisi

Aku mengambil pena

"Besok pagi,

pisau ini akan kubuat puisi!"

kata menatapku curiga

*

Puisi

Puisi tak pernah sendiri

Ia mengajak pena, kata, dan pisau.

Mereka memanggul keranda

Selembar kertas tewas di tangan penyair

Mereka bersulang doa

Menulis nisan dan menanam kamboja

"Ahai, ada senja melukis air mata!"

*

Nisan

Nisan di bawah kamboja

Menusuk sunyi

Memahat air mata

dan wangi asap dupa

Keranda bisu

Mengantar mati

Lalu tersedu

"Nyawa siapa lagi yang pergi?"

*

Aku pun Mendoakan Pernikahanmu

Saat kau melangsungkan pernikahanmu

Kau masih bertanya tentang diriku

Demikianlah perihal yang kutahu

Duhai demikian syahdu kau senandungkan cinta kita

Tolong sebagai kenang saja segala air mata

Sebab sebuah entah masih harus kutelusuri

Sebab sebuah langkah mesti harus kujalani

Hapus air matamu karena sejarah menulis dirinya sendiri

Aku tahu kau gemetar mencium pundak tangan suamimu

Kau cari wujudku; aku gentar dengan semua tulus kasihmu

Bisikku ketika pertama kali kita bersama di bilik bulan purnama

Kita saling mengikat pada teka-teki: cinta, masa,

Dan hidup yang tak pernah terduga.

Kairo, 21 Mei 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar