Jumat, 25 Juni 2010

DAMPAK NEGATIF KEMAKSIATAN & DOSA

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma Ba’du


Di antara bencana yang banyak menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang ini adalah merajalelanya kemaksiatan dan dosa, menyebarnya kemungkaran dengan berbagai tingkatannya.

Ibnul Qayyimr rahimahullah berkata:

"Kemaksiatan ini memiliki bahaya yang sangat besar bagi hati, sama seperti bahaya racun terhadap tubuh dalam tingkat bahaya yang berbeda-beda, dantidakkah di dunia ini muncul suatu kejahatan dan penyakit kecuali disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa.



Sebab apakah yang mengeluarkan bapak manusia dari surga, tempat kelezatan, kenikmatan, kemegahan, dan kesenangan, menuju alam yang penuh penyakit, kesedihan dan musibah?

Sebab apakah yang mengeluarkan Iblis dari alam langit, diusir dan dilaknat, rahmat berubah menjadi laknat serta keimanan berubah menjadi kekafiran?

Sebab apakah yang menenggelamkan seluruh penghuni bumi sehingga air melampaui puncak gunung-gunung?. Dan sebab apakah yang menjadikan angin menguasai kaum ‘Ad sehingga mereka bergelimpangan mati di permukaan bumi, sehingga mereka seperti pohon-pohon kurma yang tumbang?

Sebab apakah yang menyebabkan terjadinya siksa yang menyebabkan hati-hati mereka terputus dari tenggorokan-tenggorokan mereka sehingga hati dan tenggorokan mereka berserakan dan mereka tewas?

Sebab apakah yang menyebabkan Fir’aun tenggelam bersama kaumnya, lalu ruh-ruh mereka kembali berpindah ke neraka Jahannam?. Tubuh mereka tenggelam sementara ruh-ruh mereka terbakar, sebab apakah yang mengubur Karun dan rumahnya beserta seluruh hartanya?

Sungguh, semuanya disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa-dosa!

(Al-Jawabul Kafi liman Sa’ala Anil Dawa’i Syafi, halaman: 37-38)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa yang disebabkan karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka” (Al-Ankabut: 40)



Dosa-dosa ini ada yang besar dan ada pula yang kecil, seperti yang dijelaskan oleh nash-nash di dalam kitab dan sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (Al-Nisa’: 31)




Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil." (Al-Najm: 32)



Maksudnya adalah dosa-dosa yang kecil. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam: Dosa apakah yang paling besar? Nabi menjawab, “Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, padahal Dia-lah yang menciptakanmu”. Kemudian aku bertanya kembali: Kemudian dosa apa?. Nabi menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut jika dia makan bersamamu”. Kemudian dosa apa?. Nabi menjawab: “ Engkau berzina dengan istri tetanggamu”.

Di antara manusia ada yang terlalu meremehkan dosa dan kemaksiatan dan berkata: Selama aku masih menunaikan rukun-rukun Islam, dan kewajiban-kewajiban yang ada padanya maka perkara dosa adalah enteng, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Perkataan ini tidak benar, sebab sesungguhnya, selain Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Dia juga memiliki siksa yang pedih bagi orang yang bermaksiat kepada -Nya dan menyalahi perintah-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah amat berat siksa -Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Maidah: 98)



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Allah amat berat siksa -Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih." (Al-Hijr: 49-50)



Allah Subhanahu wa Ta'ala memperingatkan para hamba-Nya agar mereka tidak menyalahi perintah Rasul:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (An-Nur: 63)



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“…dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. sedangkan di sisi Allah adalah besar” (Al-Nur: 15)



Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnadnya dari Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap dosa-dosa kecil, karena perumpamaannya seperti sebuah kaum yang singgah di sebuah lembah, lalu masing-masing dari mereka memabawa satu batang kayu, lalu mereka membakar kayu tersebut hingga bisa memasak adonan roti mereka karena sesungguhnya dosa-dosa kecilnya itu bisa membinasakannya.”

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Sesungguhnya kalian mengetahui suatu amalan di mana dalam pandangan kalian dia lebih kecil dari rambut namun amalan tersebut pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pembinasa.”

Satu kemaksiatan menjadi sebab kekalahan para shahabat dalam perang Uhud, yaitu pada saat Nabi memerintahkan mereka agar tidak turun dari gunung, namun mereka tidak mentaati perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akhirnya tujuh puluh shahabat terbunuh pada perang itu, sebagaimana disebutkan di dalam sirah yang shahih.

Satu kemaksiatan telah menjerumuskan seorang wanita ke dalam neraka, di dalam Ashaihaini dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatnya, tidak diberinya makan dan tidak pula dibiarkannya makan serangga bumi.”

Bahkan terkadang seseorang menganggap enteng kalimat yang keluar dari mulutnya tanpa berfikir tentangnya, sehingga menjadi sebab dirinya terjerumus ke dalam neraka. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang tidak jelas baginya, namun dia terperosok karenanya ke dalam jurang neraka, bahkan lebih dalam dari jarak antara Masyrik dan Magrib.”

Satu kemakasiatan telah mengeluarkan Adam dari Surga. Seorang penyair berkata:

Engkau menambah dosa dengan dosa, lalu dirimu mengharap
tingkatan-tingkatan surga dan kemenangan seorang ahli ibadah
Apakah kau lupakan Tuhan-mu saat Dia mengeluarkan Adam
dari Surga menuju dunia hanya karena disebabkan satu dosa..?


Dampak negatif kemaksiatan sangat banyak, disebutkan oleh Ibnul Qayyim di dalam kitab “Al-Jawabul Kafi liman sa’ala ani dawai syafi”, di antaranya adalah:

Pertama: Kemaksiatan bisa mengakibatkan kehinaan bagi pelakunya, sesungguhnya kedudukan yang tinggi hanya dapat diraih dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka dari Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (Fathir: 10)




Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman;

"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul -Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 8)





Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak kemurkaan akan menimpa mereka dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.” (Al-A’rof: 152)




Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyalahi perintahku.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Ya Allah jadikanlah kami mulia dengan taat kepadamu dan janganlah buat kami hina dengan bermaksiat kepadamu”. Al-Hasan AL-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sekalipun keledai mendedas dengan mereka, dan kuda-kuda melegas dengan mereka, sesungguhnya kehinaan maksiat bersemayam di dalam hati mereka, Allah Subhanahu wa Ta'ala enggan kecuali menghinakan orang yang bermksiat kepada-Nya.”

Ibnul Mubarok berkata:

Aku melihat bahwa dosa-dosa itu mematikan hati.
Kecanduan terhadapnya mengakibatkan kehinaan
Dan meninggalkan dosa membuat hati itu hidup
Dan lebih baik bagimu meninggalkan semua dosa


Kedua: Dosa dan kemaksiatan mengakibatkan keterasingan antara seorang hamba dengan Rabb-nya, sekalipun seseorang memiliki semua fasilitas kenikmatan dunia maka sungguh keterasingan itu tidak akan pernah sirna darinya.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya pada wajah seseorang, dan cahaya di dalam hati, keluasan dalam rizki, kekuatan pada badan, kecintaan di tengah-tengah makhluk, dan keburukan akan mengakibatkan kehitaman pada wajah, kegelapan dalam hati dan kelemahan badan dan kekurangan rizki serta kebencian di dalam hati para makhluk Allah.”

Dan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ini dipertergas oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (Thaha: 124)



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (Al-Nahl: 97)




Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wassalam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

kebahagiaan muncul ketika bisa menolong dan membantu sesama

Kemaren siang saya mendapatkan email dari seorang teman di madinah . teman itu bertutur, bahwa dirinya sedang berkunjung ke rumah teman kantornya, dia baru tahu kalo temannya itu memiliki saudara yang mengidap sakit lever selama lebih dari delapan tahun. tubuh-nya sudah kurus kering , kulit tubuhnya putih pucat basi, suaranya lemah.

'Saya merasa bodoh akhi, ternyata lever itu telah menyerang oragn tubuh nya . Saya tidak segera menyadari bahwa sejak tadi sorot matanya kosong.' tuturnya

Sampai pulang tidak bisa memberikan apapun yang berarti baginya. Tidak ada uang yang berarti untuk bisa menanggung biaya pengobatannya. Perasaan bersalah terus menghantui dirinya. Sampai tidak bisa tidur memikirkannya. Sampai kemudian mendapatkan cara untuk berbuat sesuatu kepadanya yaitu sebuah sentuhan kecil. Kemudian memberanikan diri untuk menelpon. Sebagai orang yang tidak dikenal, dirinya menelpon sekedar 'say hello.'

Dia melakukan terus menerus, menelpon seminggu sekali. Membuat mereka berdua menjadi dekat. Suaranya terdengar ceria, jauh berbeda ketika bertemu dengan pertama kalinya. Suatu hari dirinya datang ke rumahnya. Mereka poto berdua dalam posisi lebih dekat. teman sekantornya bisa menangkap moment mereka berdua tersenyum. Bahkan moment tertawa menjadi terasa indah untuk dikenang. kebahagiaan itu terasa mengalir diseluruh tubuhnya.

Terakhir menurut temannya sekantor itu mengatakan kepada dirinya ada perkembangan positif pada diri saudaranya. Tubuhnya semakin sehat dan bugar, wajahnya lebih cerah. Dengan kata lain sakitnya berkurang drastis, sekalipun tumor itu masih tetap dikepala. Menurut dokter,penyakit lever nya telah mulai membaik l. Kebahagiaan itu telah membuat kekebalan tubuhnya meningkat. 'Sentuhan kecil' telah memberikan keajaiban menyembuhkan laver yang ada ditubuhnya .

”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, ...kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…( Ibnu Katsir rahimahullah, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, I/37 )

YAKINLAH, BAHWA COBAAN ITU KECIL DIBANDING BESARNYA KARUNIA.

Demikian halnya, jika ia tertimpa atau khawatir tertimpa cobaan atau hal yang tidak diinginkannya, seyogianya ia membandingkan ni'mat-ni'mat yang masih melekat padanya, baik di sisi kehidupan religi atau duniawi, dengan cobaan-cobaan yang menimpanya itu. Maka, saat membandingkan antara keduanya itu, akan nyata betapa banyaknya ni'mat yang dirasakannya dan betapa kecilnya cobaan yang menimpanya.

Begitu juga, seyogianya ia membandingkan bahaya yang dikhawatiri akan terjadinya itu dengan banyaknya peluang kemungkinan terhindar darinya. Maka, janganlah ia membiarkan kemungkinan yang lemah tadi mengalahkan banyaknya kemungkinan yang kuat itu. Dengan ini, akan sirnalah kegundahan dan kekhawatirannya. Hendaknya ia pun memperhitungkan kemungkinan terbesar yang dimungkinkan menimpanya. Lalu, ia kuatkan hatinya untuk menghadapinya kalaupun terjadi, dan berupaya untuk mencegah yang belum terjadi dan menangkis atau meringankan cobaan yang terjadi.

Pesan kisah diatas adalah berikanlah sedikit semangat dan membahagiakan orang-orang yang sangat membutuhkan ternyata memberikan dampak yang sangat besar pada orang lain. Kita yang selalu berbuat baik niscaya selalu merasa bahagia, apapun yang menimpa diri kita. Orang-orang yang hebat percaya kebahagiaan muncul ketika bisa menolong dan membantu sesamanya.

--
Barangsiapa melakukan amal kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS. an-Nahl : 97).

Wassalam,


Andi .Muhammad

Catatan Hati Seorang Suami

Aku tahu kamu rindu. Bahkan hingga kini kau selalu ucapkan itu padaku. Tapi tunggulah suatu saat, bila masanya aku sudah mampu menemuimu. Menatap wajahmu dan menghadirkan sejuta tawa untukmu. Mungkin hanya itu yang bisa aku beri untukmu, selain sebuah komitmen bahwa kita akan selalu bersatu. Untuk meniti jalan ini dengan hati yang saling mengasihi. Karena ini adalah ikatan suci yang akan kita jaga hingga akhir nanti.


Penantian pasti berakhir, perjumpaan pasti terjadi. Hanya soal waktu dan Rabb kita nanti , Semoga menghadiahkan pertemuan yang berkesan, antara dua insan yang sudah dijalin pernikahan. Semoga derai-derai harap akan selalu muncul, di balik jiwa yang sangat masygul. Bukan karena tak ada dunia, tapi hanya karena kau berada nun jauh di sana. Tunggu aku, karena aku akan segera menjemputmu.



Biarlah penat selalu hadir. Mengusir rasa bengong yang sering mengalir. Biarlah lelah selalu menyapa, selama kamu dan anak-anak bahagia. dan selalu memohon dan meminta ampunan, dari segala kekurangan dan ketidakmampuan pasangan. Tak banyak yang bisa diberikan, selain sesuap nasi dan secuil harapan. Cita-cita keluarga takwa, yang akan mengharumkan dunia. Dengan akhlak yang baik dan pekerti yang luhur.



Kuatkan tekad di dada, bahwa perjuangan ini akan berlangsung lama. Didiklah putra putri kita, menjadi apa yang pelita peradaban dunia. Terang dalam kebenaran, dan tenang dalam kesederhanaan. Ingatkan ketika salah, karena alpa dan khilaf bisa datang kapan saja. Semoga berjabatnya tangan kita, akan menjadi saksi kesungguhan kita meniti jalan Nya.amin

Tidaklah seorang perempuan menyakiti hati suaminya di dunia, kecuali istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, "Janganlah engkau menyakitinya,sebab dia bagimu hanya tamu yang mampir, dan akan meninggalkanmu untuk berpaling kepadaku." (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)


waallahua’am


Andi .Muhammad

Memohon ampun kepada Allah atas semua dosa-dosa yang pernah kita lakukan

Ditengah malam menjelang pagi yang Sunyi

Melepaskan penat dan kelelahan kehidupan duniawi, hiruk pikuk yang tiada pernah henti. Hawa nafsu yang tidak pernah terpuaskan, duduk sejenak dalam kesunyian malam mengingat Allah lalu air mata mengalir begitu saja tanpa terasa, mengingat dosa-dosa diri kita yang pernah kita lakukan pada sebuah perenungan terasa menyentuh hati yang paling dalam.

Desah suara, sesak nafas membuat dada menjadi penuh. Tiada terbersit dalam hati kecuali hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian mata terus saja meleleh karena diri telah terlena dengan Allah, khusyuk terhadapNya dan senang berada dihadiratNya. Izinkan Hamba yang hina ini menyapaikan nasihat sedikit saudara qu ,

Wahai Hamba Allah, Hamba ini tidak mempunyai sahabat

kecuali Yang Maha Pengasih teman sejatinya

Mengingat-Nya, lalu menangis

tercengang dengan keindahan dan keagunganNya

Mari kita terjaga dari tidur panjang. Mari bangkit dari kelalaian. Mari datang menghadap Yang Maha Penyayang, mengharap maaf dan ampunanNya serta berjanji kepadaNya untuk selalu taat dan beribadah kepadaNya. Allah senang dengan hamba-hamba nya yang mau menuju jalan kebaikan / taubat dan Malaikat selalu mendoakan orang-orang yang bertaubat dan menghampiri kita tatkala kita mendekat kepadaNya. Allah berfirman di dalam hadist qudsi.

'Jika dia mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku akan mendekatkan diriKu sehasta. Jika dia mendekatkan diri kepadaKu sehasta maka Aku akan mendekatkan diriKu sedepa. Jika dia datang kepadaKu berjalan kaki maka Aku akan datang kepadanya berlari' (HR. Bukhari).

saudaraku yang di Muliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mari kita berpegang erat menuju jalan kebaikan . Memohon ampun kepada Allah atas semua dosa-dosa yang pernah kita lakukan.'

Saudaraku Taubat adalah ibadah yang amat besar nilainya dan akan menghapus dosa-dosa kita, sebagai mana nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam Bersabda : “Seseorang yang bertaubat seperti orang yang tanpa dosa.”(Hasan -Diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah ibn ‘Abdullaah & dikumpulkan oleh Ibn Majah Authenticated oleh al-Albani)

Saudaraku Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa


Namun dibalik itu semua, hal yang terpenting janganlah kita berputus asa terhadap rahmat Allah. Tiada dosa yang terlalu besar untuk kembali bertaubah atau terlalu kecil. Janganlah memohon ampunan kepada siapapun.“Janganlah menganggap remeh dosamu, namun ingatlah kebesaran dari Tuhan yang telah engkau langgari perintah-Nya.”(al Baihaqi ‘Sh’abul Iman’ (5/430).


RENUNGKANLAH WAHAI HAMBA ALLAH YANG MEMPUNYAI HATI NURANI .....


Wassalam,


Andi .Muhammad

Intervensi Manusia Terhadap Sunatullah

Dunia ini tidak akan pernah damai dan sejahtera dalam pengertian yang haqiqi, selama manusia-manusianya mengabaikan Agama (Islam) dan Moralitas (Akhlak).

Selama manusia tidak berupaya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt, Al-Khaliqnya (Pencipata Alam Semesta), pada umumnya manusia tidak akan pernah bahagia secara duniawi dan ukhrowi.

Selama mereka bersikap arogan, haus kekuasaan, jabatan dan harta yang mereka miliki, mereka lupa bahwa semua yang mereka miliki tersebut tidak akan kekal dan apabila Allah swt menghendaki semuanya lenyap, maka lenyaplah seketika tanpa aba-aba.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya kalian ditolong dan diberikan rezeki, karena jerih payah dan perjuangan kaum dhu’afa (Orang-orang lemah)“. (HR: Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Imam Ahmad).

Ajaran dan nasehat Nabi Muhammad ini banyak yang mengingkarinya dan tidak menggubris sama sekali. Mereka lupa dan lalai bahwa apa yang mereka miliki dan apa yang mereka banggakan tidak lain merupakan berkat jerih payah kaum lemah.

Hal inilah yang kemudian banyak orang kaya tiba-tiba jatuh miskin, mereka yang berada dipuncak karirnya tiba-tiba merosot dan bahkan terperosok ke lembah kenistaan, lembah kehinaan dan lembah hitam.

Manusia kini tidak dapat lagi melakukan hal-hal yang konstruktif (membangun), malah sebaliknya mereka menjadi manusia-manusia yang destruktif (merusak) akibat ulah mereka sendiri. Mereka terlalu cinta dan memuja materi, pangkat, dan harta.

Mereka ingin diidolakan, ingin dikultus-individukan, sehingga tanpa sadar mereka terjerat dengan hal-hal yang berbau mistik dan syirik. Mereka terperangkap dengan rayuan, godoaan dan pengaruh hukum dan pedoman produk manusia, yakni DEMOKRASI dan HAM.

Mereka sangat takut dan loyal terhadap kedua konsep produk manusia ini. Seoiah-olah kehidupan mereka akan mulus, terjamin dan aman jika mereka berlindung kepada kedua hal ini.

Ini adalah awal kehancuran umat manusia, mereka telah menjadikan Demokrasi dan HAM sebagai pedoman hidupnya, padahal mereka tau dan sadar bahwa hukum produk manusia yang disebut “Undang-undang” sangatlah lemah dan tidak pernah sempurna jika dihadapkan dengan Hukum Allah, Sunnatullah dan Sunnah Rasulullah saw.

Telah terbukti bahwa hukum buatan manusia yang sifatnya controversial dan interpretatif, tidak dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia. Mengapa demikian ?

Jawabannya ada pada Firman Allah berikut yang artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?“. (Al-Maaidah: 50).

Mereka benar-banar telah kehilangan arah, mereka menjadi orang-orang yang selalu mencari pembenaran ketimbang kebenaran, mereka tidak lagi tertarik dan peduli tentang ajaran Islam, mereka sudah terlalu jauh melenceng, bagi mereka dosa sudah tidak lagi menjadi kendala (mendarah daging) dan merupakan sesuatu yang sudah lazim dan sering mereka lakukan. Semuanya, menurut mereka bisa diatasi dengan Uang, Pangkat, Harta, Jabatan serta Justifikasi (pembenaran).
Umat Islam Terbelenggu dengan Berbagai Kenistaan

Allah swt sangat murah hati memperingatkan hamba-hambanya dengan berfirman yang artinya: “Dan bahwasannya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demlkian itu diperintahkan Allah agarkamu bertaqwa“. (Al-An’am: 153).

Umat Islam dewasa ini terbelenggu dalam situasi saling mendiskreditkan dan serba salah. Kelompok yang mengkategorikan dirinya sebagai moderat dan pemimpin bangsa apriori terhadap kelompok yang dikategorikan sebagai Radikal dan Ekstrim.

Bila kolompok ini mencoba mencairkan suasana dengan ajakan berdialog, musyawarah mufakat sering diabaikan dan tidak ditanggapi sama sekali dengan berbagai alasan yang terkesan dibuat-buat.

Mereka khawatir jika mereka menanggapi masukan atau gagasan dari kelompok yang dikategorikan ekstrim kanan ini, akan mempengaruhi dan bahkan merusak tatanan birokrasi serts sistem pemerintahan yang sudah ada.

Ummat Islam Indonesia, walaupun mereka mayoritas tidak dapat memberi kontribusi apapun, terutama dalam bidang perniagaan (ekonomi), teknologi, politik dan pemerintahan (birokrasi). Pemikiran kaum Muslimin sering dianggap cocok hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan spiritual dan seremonial.

Selain dari itu, untuk kepentingan dakwah bagi sesama Ummat Islam, jadi sifatnya internal saja. Tokoh-tokoh, para ulama yang memiliki komitmen dan istiqomah terhadap agamanya, jarang diikut-sertakan dalam dialog nasional ataupun untuk kepentingan bangsa dan Negara.

Kualitas Intelektual mereka (para ulama) diragukan, pemikiran dan pendapat mereka dianggap kurang relevan dan kurang realistis terhadap kemajuan bangsa, sehingga tidak perlu diikutsertakan. Sementara ada sebagian yang menganggap bahwa Ajaran Islam tidak dapat menjawab berbagai tantangan dan persoalan Bangsa dan Negara.

Lembaga-lembaga Islam, seperti MUI dianggap kurang berarti dan berwibawa. Inilah yang sering terjadi dan sekaligus menciptakan jurang pemisah diantara Umaro’ (para pemimpin) dan Ulama (Ahli ke-Islaman).

Mereka betul-betul dimarjinalkan serta dikucilkan dalam pengertian kontribusi pemikiran, perjuangan dan ilmu pengetahuan, padahal apa yang ingin dikomunikasikan oleh para ulama sesuai dengan kewajibannya dan kewajiban kaum Muslimin pada umumnya dalam menerapkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“. (Ali Imran: 104).

Mereka yang tidak menerima kebaikan dan kebenaran Islam adalah orang yang merugi: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi“. (Ali Imran: 85).
Kebangkitan Umat Islam yang Tidak Kunjung Datang

Memasuki 1 Muharram 1431 Hijriyah ini saatnya Umat Islam melakukan introspeksi total, mengapa kebangkitan Islam yang diyakini itu tidak kunjung datang ? Sebuah pertanyaan yang menggelitik.

Sebaliknya, berbagai malapetaka dan adzab menghampiri Umat Islam, yang paling memprihatinkan adalah terbangunnya opini bahwa “Umat Islam identik dengan radikalisme, fundamentalisme dan bahkan terorisme”.

Memang secara kebetulan (koinsidental) yang terlibat teroris selama ini dari kacamata Barat (Amerika dan sekutunya) adalah orang-orang Islam yang fundamentalis (contoh: Amrozi CS), padahal jika kita simak definisi “Terorisme” ialah, “Bentuk paham intimidasi mental dan ancaman psikologis yang didalamnya syarat dengan kekerasan dan penganiayaan terhadap mereka yang tidak berdaya”.

Termasuk dalam kategori ini adalah penjajahan dan para penjajah. Mereka inilah yang sering dan pertamakali melakukan teror. Betapa tidak, mereka yang dijajah sering diperlakukan semena-mena, disiksa sekedar untuk memperoleh informasi atau rahasia, namun sayangnya penyiksaan ini tidak selamanya berhasil untuk mengorek informasi atau rahasia, karena memang yang bersangkutan tidak mengetahui apa-apa.

Dengan kata lain, mereka adalah korban fitnah. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, sesadis apapun penyiksaan yang dilakukan terhadap tersangka, tidak akan berhasil bagi mereka yang memang tidak melakukan apa yang difitnahkan.

Tidak jarang jiwapun melayang tanpa melalui proses hukum, bukti dan fakta yang jelas. Ternyata kebangkitan Umat Islam tinggal peringatan belaka. Kebangkitan dan kejayaan Umat Islam yang ditunggu-tunggu tahun demi tahun menguap begitu saja.

Umat Islam malah mengalami kemunduran di berbagai bidang, khususnya ekonomi dan teknologi. Bukan hanya itu, diberbagai negara kapitalis, sosialis dan kolonialis, mereka alergi dan benci Islam.

Umat Islam dibantai, disiksa secara sadis seperti yang terjadi di Palestina, Kashmir, Philipina Selatan (Pejuang islam Moro), di Muangthai Selatan (Pejuang Islam Patani), di Afghanistan, Aceh, Sulawesi Selatan dan di Jawa Barat, tempat mayoritas Umat Islam berdomisili.

Bertahun-tahun tuntutan mereka tidak pernah digubris, malah dijawab dengan perang dan tindakan represif. Sungguh ironis dan menyedihkan nasib Umat Islam diseluruh dunia.

Predikat separatis, teroris, pemberontak senantiasa melekat pada diri Ummat Islam, baik secara individual maupun secara institusional. Image dan opini ini sengaja dibangun secara sistematis agar Umat Islam tidak dapat bangkit dan berkiprah demi Agama, Bangsa dan Negaranya. Yang lebih menyedihkan lagi agar mereka tidak dapat berperan dan memimpin dunia.

Hal ini sangat logis untuk dikhawatirkan oleh pihak-pihak yang memang selama ini berseberangan dengan Islam, karena dari segi Sumber Daya Alam (SDA) negara-negara Islam pada umumnya sangat kaya.

Saudi Arabia adalah Produsen Minyak terbesar 7,963 juta barel per hari, disusul dengan lraq dan Iran, masing-masing 4,222 juta barel per hari dan 3,5597 juta barel per hari dan Indonesia 1,270 juta barel per hari. Belum lagi sumber-sumber yang berasal dari pertanian, pertenakan dan perikanan.

Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa Ummat Islam tidak punya pilihan lain, melainkan tetap konsisten menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai misi utamanya.

Selain dari itu Umat Islam juga harus membela agama Allah, sesuai dengan Firman-Nya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu“. (QS. Muhammad: 7).

Ummat Islam harus tetap berupaya untuk bangkit dan berkiprah dalam skala regional maupun internasional. Ummat Islam diseluruh dunia harus merubah nasibnya dari keterpurukan menjadi jaya dan sejahtera.

Allah swt berfirman yang artinya: “….Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS: ar-Ra’du: 11).

Marilah bersama kita bangkit dan wujudkan impian Islam Rahmatan lil ‘Alamiin. Raihlah kembali kejayaan yang pernah dicapai dimasa silam! Jadilah Hamba Allah yang bertaqwa dan selalu mengamalkan Sunnah Nabi saw.

Sumber: Lembar Jum’at At-Tibyan No. 178 / Thn VIII - 12 Maret 2010

KIAMAT MENURUT AL QUR`AN JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA FILM 2012


Oleh : Andi Muhammad '

Tahun 2012 tiba-tiba saja menjadi populer.


Plot diawali tahun 2009, diperlihatkan planet-planet beredar mengelilingi Matahari. Kemudian, close up, permukaan Matahari dengan ledakan solar flare-nya. Terlihat kegiatan yang luar biasa. Setting..pindah ke India tahun 2010, salah satu tambang, diberitakan temperatur didalam terowongan tambang naik hingga 120 derajat Fahreinheit. Pindah lagi kelokasi kegiatan laboratorium Astrofisika di New Delhi. Didiskusikan oleh para ahli, kegiatan ledakan di permukaan Matahari meningkat - mengancam Bumi.

Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Coronal Mass Ejection atau CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik, disebut partikel Neutrinos, yang mampu meningkatkan panas di Inti Bumi, hingga Bumi makin panas – menyebabkan retakan pada lempengan tektonis, gempa bumi, Tsunami, badai dsbnya.

Informasi tersebut dibawa hingga ke gedung putih, Washington DC. Selanjutnya, singkat kata, Presiden Amerika Serikat, Wilson, menyimpulkan bahwa “ Dunia kita akan berakhir”.
Selanjutnya mudah ditebak, misi penyelamatan, untuk evakuasi sebagian kecil manusia “terpilih” dan sejumlah binatang. Bahtera Noah, 7 buah dibuat oleh gabungan 46 negara, diprakarsai Negara G8, dibuat di China dengan dana yang besar.


Tahun 2011, lukisan Monalisa yang ada di museum Louvre di Parispun diganti dengan yang palsu, untuk menyelamatkan karya seni dari bencana alam yang akan datang……21 Desember 2012. Plot terakhir, diperlihatkan, bahwa sesudah tanggal 21 Desember 2012. Manusia Bumi meriset kalendarnya, mulai lagi tanggal 1 Tahun 01. Itulah cuplikan film “2012” yang dibintangi oleh John Cussack. Kini diputar serentak di kota-kota besar di Indonesia.

Prediksi ini diawali karena, salah satunya, perhitungan kalender Bangsa Maya di dekat Mexico menyebutkan bahwa tepatnya tanggal 21 Desember 2012, merupakan “End of Times” - yang kemudian ditafsirkan oleh pembaca ahli sebagai akhir zaman. Kalender Bangsa Maya hingga saat ini termasuk kalender yang paling akurat yang pernah ada di bumi. Sudah banyak kejadian dan fenomena mereka kumpukan dan diterangkan dalam sebuah simbol-simbol dan karakter untuk meramal kehidupan budaya dan akhir jaman.

Pada manuskrip peninggalan suku yang dikenal menguasai ilmu falak dan sistem penanggalan ini, disebutkan pada tanggal di atas akan muncul gelombang galaksi yang besar sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka Bumi ini. Ditafsirkan dalam ilustrasi, pusat Galaksi Bima Sakti, Matahari dan planet-planet terletak pada satu garis lurus, in – line. Itulah tanggal 21 Desember 2012.


Tidak kurang, banyak versi tentang 2012 yang diterbitkan dalam berbagai judul buku, sebut saja yang terkenal “ The End Of Time: The Maya Mistery Of 2012 oleh Anthony Aveni atau “Fingerprints Of The Gods” oleh Graham Hancock.

Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, menurut para ahli Astrofisika, termasuk di Indonesia - fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an. Itulah yang disebut Solar Flares, yang siklusnya tiap 11 tahun sekali….yang kemudian diangkat menjadi Film Luar Biasa tentang Kiamat di Bumi.


Tetapi apakah memang akan terjadi Kiamat, kehancuran spesies manusia Bumi di tahun 2012? Banyak ilmuwan meragukan itu, bencana dahsyat mungkin iya, tetapi tidak memusnahkan umat manusia seluruhnya.

Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia. Jika benar akan mempengaruhi magnet Bumi, maka pengguna alat pacu jantung dapat mengalami gangguan yang berarti.

Salah satu langkah antisipatif yang harus dijalankan di Indonesia, misalnya PLN harus mematikan listriknya menjelang Hari H, karena serbuan miliaran partikel electron yang disebut Neutrinos dengan kecepatan yang sangat tinggi. Serbuan ini memakan waktu beberapa hari, kurang dari seminggu. Cukup mencemaskan bukan.

Sekali lagi, kegiatan Ledakan Matahari dan Coronal Mass Ejection atau CME, tetap dipantau terus oleh sejumlah Negara. Tahun 2010 baru diketahui bagaimana dampaknya ke Bumi.

Lalu bagaimana perspektif agama?

PERSPEKTIF KITAB SUCI ISLAM.


Sejumlah agama memberi deskripsi tentang Kiamat yang akan memusnahkan Human Race, Ras Manusia di Bumi. Namun untuk membatasi masalah, saya hanya akan melihat khusus dari perspektif Kitab Suci Muslim ya…:D.


Istilah Kiamat dalam bahasa Indonesia sebetulnya keliru diartikan oleh kita semua. Kiamat diambil dari bahasa al Qur’an atau bahasa Arab, dari asal kata “Qiyam” yang artinya “berdiri” atau “bangkit”. Dalam bahasa al Qur’an, makna “al Qiyaamah” adalah ” ketika tulang belulang manusia hingga jarinya disusun kembali dengan ketelitian yang tinggi, bangkit kembali, dan kemudian pindah kedimensi lain, tiba-tiba semua makhluk berdiri menunggu dipadang yang sangat luas - Pengadilan Akhir”. Ini adalah TAHAP KE-2.


Tahap pertama adalah “Kemusnahan makhluk di Bumi” secara umum disebut “as Sa’ah”, nama lain misalnya “al Qari’ah” artinya “The Great Shock” atau “al Waaqi’ah” artinya “Global Disaster”.


Mayoritas Muslim memiliki interpretasi bahwa yang disebut KIAMAT adalah kehancuran Alam Semesta, seluruh Jagad Raya, ini diyakini semenjak ratusan tahun yang lalu mungkin ribuan tahun yang lalu. Dapat dipahami, karena para Ulama dan para guru agama baik disekolah maupun di Masjid-masjid mengajarkan demikian termasuk para penulis buku Islam. Namun kalau kita teliti belasan surat dalam al Qur’an dengan latar belakang astronomi dan astrofisika , maka kita akan mendapat kesimpulan bahwa musnahnya umat manusia di Bumi berkaitan dengan “sekaratnya Bintang Matahari” yang mulai kehabisan bahan bakarnya, Hidrogen. Karakter yang ditunjukkan adalah sekarat hingga padamnya Matahari, terbaca jelas pada surat at Takwir (menggulung/berakhir) ayat 1 (The Folded Up, 81:1).

Kesalahan umum para pembaca adalah ketika menterjemahkan “kawkibun” jatuh berserakan dengan “bintang – bintang” jatuh berserakan. “Kawkibun” adalah planet-planet bukan bintang-bintang, ia bersinar tetapi bukan sumber cahaya (The Cleaving, 82:2).

Singkat kata al Qur’an menggambarkan As Sa’ah, proses musnahnya manusia dan sekaratnya Matahari sebagai berikut, dalam bahasa bebas:


Tahap 1:


Ketika Bumi berguncang dan benar-benar berguncang, demikian pula planet-planet berguncang sekeras-kerasnya kesemua arah. Ketika itu langit lemah (keseimbangan antara gaya nuklir Matahari dengan gaya gravitasinya terganggu). Dan langitpun terbelah (atmosfir pecah). Apakah yang kau ketahui tentang The Great Schock (Al Qariah: Peristiwa yang memukul jantung)? Yaitu ketika Manusia diterbangkan keangkasa bagaikan anai-anai, dan gunung-gunungpun dihambur-hamburkan bagai bulu domba. Beradu dan hancur. Air lautpun meluap keatas (dan tidak kembali lagi). Isi kuburanpun dibongkar diaduk berkali-kali. Bumi melepaskan segala isinya (keangkasa). Bumipun menjadi gundul dan kosong (tidak ada gunung, bukit, sungai, laut, ataupun tumbuh-tumbuhan lagi – karena semua ditarik keangkasa luar oleh gravitasi Matahari).

Tahap 2:


Bulan disatukan dengan Matahari (dihisap oleh gravitasi Matahari). Dan Matahari digulung (berakhir dan padam sinarnya). Dalam tahap ini manusia menjalani “kehidupan ke-2” sudah pindah kedimensi lain. Sulit dicerna seperti tidak masuk akal, tetapi itulah yang diberitakan Kitab Suci Islam. Dalam bahasa sains proses tersebut memakan waktu yang lama, misalnya ketika Matahari Menjadi Red Giant (Raksasa Merah) membesar tetapi kehilangan sinarnya hingga padam (White Dwarf) memakan waktu lebih dari 500 juta tahun. Saat mulai Bulan kehilangan sinarnya hingga dihisap Matahari juga memakan waktu puluhan tahun lebih.

Ajaib, deskripsi tersebut - ternyata - serupa dengan simulasi komputer yang dilakukan oleh para astrofisikawan ketika ingin mengetahui, nasib Tata Surya di akhir siklus pertumbuhannya.

Lalu kapan itu terjadi?


Saat Matahari mulai menipis bahan bakarnya - masih cukup lama.
Dengan demikian jika ada bencana dahsyat di Bumi sebelum itu, tidak akan memusnahkan kehidupan dilingkungan Tata Surya, dan itu berbeda dengan deskripsi “As Saah” sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Suci Muslim.


Dalam bahasa agama khususnya Islam. Terjadinya Kiamat (as Sa’ah) tidak diketahui pasti oleh manusia. Namun Tuhan memberi tanda-tanda, baik itu fenomena alam maupun fenomena sosial, yang memberi gambaran bahwa Kiamat makin dekat. Tanda besar yang diberikan oleh al Qur’an adalah “ Keluarnya “Daabah” atau (creature) “bisa serangga hingga ke mahluk apa saja. Sejenis mahluk yang akan mengatakan pada mereka bahwa Kiamat pasti terjadi” (The Ant, 27:82).


Kapan itu?


Ketika Bumi usianya senja, maka akan ada peristiwa alam dimana Magnet Bumi melemah atau bahkan mungkin berbalik arah. Fenomena alam yang sangat aneh itu akan menimbulkan gangguan bagi lingkungan hidup di Bumi, termasuk diantaranya sejumlah binatang yang mengandalkan sistem navigasinya – untuk menentukan arah – berdasarkan aliran medan magnet Bumi. Sebut saja, berbagai macam serangga yang sangat kecil, sejumlah jenis burung, ikan, dan lebah sangat bergantung pada system navigasi ini. Gangguan medan magnet Bumi yang mendekati nol menyebabkan perilaku binatang menjadi liar dan ‘disoriented’. Misalnya, burung dara, kupu-kupu, lebah madu, penyu laut (caretta carebba), lumba-lumba, paus, ikan salmon, udang besar, dan tikus tanah Zambia. Reaksi awal adalah muncul dari sarangnya.


Fenomena sosial yang akan ditunjukkan sebelum Kiamat, merujuk pada HR Muslim (catatan perkataan Nabi yang diceritakan kembali oleh sahabat) antara lain: (1) Musnahnya peradaban manusia (2) Hilangnya agama-agama dunia, dan (3) Kabah, Kiblat Muslim, hancur rata dengan tanah.


Bukankah sekarang ini kita masih mengenal agama-agama dengan baik? Ada Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani dan Islam. Bukankah peradaban dunia masih ada ? Dan bukankah Mekkah dan Kabahnya masih berdiri. Magnet Bumipun masih berjalan dengan baik, walaupun ada indikasi melemah?


Dengan demikian, Kiamat Besar (as Saah), yang akan memusnahkan umat manusia – datangnya - masih sangat lama. Tetapi bencana kecil dan sedang, seperti bencana alam, musibah dan kematian, dapat datang sewaktu-waktu. Termasuk hari ini.

Film 2012 adalah film yang menggambarkan bencana alam ketika Coronal Mass Ejection (Ledakkan Nuklir Matahari - Neutrinos) terjadi di tahun 2012, yang mudah-mudahan tidak akan sedahsyat itu - ditambah kaitannya dengan kalendar bangsa Maya yang akan berakhir tanggal 21 Desember 2012 untuk satu siklus.


Diramu, dengan daya jual yang baik, jadilah tontonan teknologi yang dahsyat, bagi yang suka sains atau penggemar film fiksi.


1.KIAMAT MENURUT AL QUR`AN JAUH LEBIH DAHSYAT DARIPADA FILM 2012

Film 2012 yang menghebohkan dan menyebabkan MUI dibeberapa daerah mengharamkan film tersebut , sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film sebelumnya seperti The day after tomorrow, Armagedon, Deep Impact, Earth Quake dan lain lainnya. Film ini hanya mengkisahkan tentang kehancuran suatu negeri, kota atau daerah akibat bencana gempa dan tsunami kemudian usaha sekelompok orang menyelamatkan diri dari bencana tersebut.



Pada film 2012 ini dikisahkan masih ada sekelompok orang yang berhasil selamat dari gempa yang memporak porandakan jalan dan gedung bertingkat serta gelombang tsunami setinggi gunung yangmenyapu kota ditepi pantai, dengan naik pesawat terbang dan kapal raksasa. Pada peristiwa kiamat yang dikisahkan dalam Al Qur`an tidak seorangpun yang bisa selamat dari bencana dihari itu. Bumi terbelah dan memuntahkan semua isinya, gunung-gunung hancur beterbangan diangkasa bagaikan kapas yang dihamburkan, gedung bertingkat dan seluruh bangunan dibumi hancur porak poranda, Laut mendidih dan melimpah kedaratan dengan gelombang setinggi gunung, Angkasa dipenuhi dengan hujan meteor, badai, topan dan batu berapi yang dimuntahkan dari gunung yang meletus. Dalam kondisi seperti itu mana ada pesawat yang bisa terbang di udara, atau kapal yang mampu berlayar dilautan.


Umat Islam tidak perlu alergi dengan film 2012, itu hanya film fiksi ilmiah sama seperti film The day after tomorrow, Earth Quake atau Deep Impact. Gambaran kehancuran sebuah kota atau daerah di Film tersebut cukup membantu kita untuk memahami bagaimana kira kira kondisi kiamat yang digambarkan dalam beberapa ayat Al - Qur’an sebagai berikut ini.

Al- Qori’ah

1- Hari Kiamat, 2- apakah hari Kiamat itu? 3- Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? 4- Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, 5- dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qori’ah 1-5)

Al- Zalzalah

1- Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), 2- dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, 3- dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, 4- pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5- karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. (Al Zalzalah 1-5)

Al - Infitar

1- Apabila langit terbelah, 2- dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, 3- dan apabila lautan dijadikan meluap, ( Al Infitar 1-3)

At - Takwir

1- Apabila matahari digulung, 2- dan apabila bintang-bintang berjatuhan, 3- dan apabila gunung-gunung dihancurkan, 4- dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), 5- dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, 6- dan apabila lautan dipanaskan, (At Takwir 1-6)

Apa yang digambarkan dalam ayat Qur`an diatas jauh lebih dahsyat dari apa yang diperlihatkan dalam film 2012. Pada peristiwa Kiamat total yang disebutkan dalam Qur`an tidak seorangpun mampu menyelamatkan diri dari kehancuran total alam semesta. Bumi, laut dan udara berkecamuk dahsyat, tidak ada mahluk yang bisa bertahan hidup dilaut, darat maupun udara. Pada film 2012 terlihat masih ada peluang orang menyelamatkan diri dengan naik pesawat terbang, kemudian dilanjutkan naik kapal raksasa seperti kapal nabi Nuh yang memuat segala sesuatu berpasang pasangan.

Film ini hanya pelajaran bagi kita, yang digambarkan pada film itu bukanlah kiamat total sebagaimana dimaksud dalam Qur`an. Itu hanya becana alam lokal yang memang akan banyak terjadi menjelang peristiwa kiamat yang sebenarnya. Dalam skala kecil bencana seperti film 2012 sudah sering terjadi di dunia ini, seperti gempa di China, Kobe, Thailand, tsunami Aceh, gempa Padang dan lain sebagainya. Tsunami dahsyat yang menenggelamkan seluruh kota di tepi pantai laut pasifik seperti Sydney, Hawai, Los Angeles, Hongkong, Jakarta, Taiwan dengan jumlah korban sampai puluhan juta orang bisa saja terjadi dimasa yang akan datang.

Sejak zaman dahulu sampai sekarang ada saja Asteroid yang cukup besar nyelonong masuk kedalam orbit bumi . Jika jatuh diatas sebuah kota pasti akan melenyapkan kota tersebut dengan korban sampai beberapa juta orang, jika jatuh ditengah hutan atau gurun pasir memang tidak banyak menimbulkan korban jiwa. Namun jika Asteroid yang sangat besar sampai jatuh di laut pasifik tentu akan menimbulkan tsunami yang amat dahsyat, yang mampu menenggelamkan kota seperti Sydney, Los Angeles, Hongkong, Taiwan dan kota kota ditepi pantai di Indonesia ini dengan korban puluhan juta orang.



Menanggapi film ini umat Islam tidak perlu alergi, kita tidak perlu percaya dengan ramalan 2012-nya, jadikanlah film ini sebagai peringatan untuk menambah keyakinan kita tentang adanya peristiwa kiamat kelak. Apa yang disampaikan dalam Al - Qur`an jauh lebih dahsyat dari film 2012 itu. Kapan terjadinya saat kiamat adalah Rahasia Allah sebagaimana disebutkan dalam surat Thaha 15 :

Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaha 15)

Semua orang didunia ini percaya bahwa saat kiamat dan musnahnya seluruh kehidupan didunia ini pasti terjadi. Namun tidak semua manusia percaya bahwa ada kehidupan diakhirat setelah peristiwa kiamat itu. Kebanyakan orang menganggap hidup ini hanyalah peristiwa alam yang berlalu begitu saja, kita hidup dan mati karena proses alamiah. Seluruh perhatiannya hanya ditujukan untuk keberhasilan hidup didunia, mereka tidak pernah memikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk kehidupan yang sebenarnya diakhirat kelak.

Sebaiknya kita tidak perlu terlalu memikirkan kapan terjadinya kiamat total seperti yang disebutkan dalam Qur`an. Ada hal yang lebih dekat dengan kita dan bisa terjadi setiap saat tanpa pernah kita duga sebelumnya, yaitu kematian. Hal paling utama bagi kita adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi datangnya kematian itu dan mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi kehidupan setelah hari kebangkitan diakhirat kelak sebagaimana yang telah diingatkan Allah dalam surat Al Hasyr ayat 18 :

al-hasyr-18

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Hasyr 18)



2.KEPANIKAN DI HARI KIAMAT .

Oleh Fadhil Z.A

Semua orang didunia ini mengakui bahwa peristiwa kiamat, hancur dan musnahnya seluruh kehidupan dibumi ini pasti akan terjadi. Namun tidak seorangpun tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Musnah dan hancurnya seluruh kehidupan dibumi ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Semua peralatan teknologi didunia ini mempunyai lifetime, jika habis lifetime-nya peralatan tersebut akan rusak dan tidak berfungsi lagi. Diyakini bumi, matahari, bulan dan seluruh system ditata surya dan alam semesta ini masing masing mempunyai life time. Diruang angkasa saat ini banyak ditemukan bintang yang sudah habis life time nya sedang sekarat dan dalam proses kemusnahan. Satu ketika matahari dan seluruh planet didalam tatasurya termasuk bumi ini juga akan mengalami nasib yang sama seperti bintang yang sedang sekarat itu.


Pada saat kiamat nanti akan terjadi kepanikan yang sangat dahsyat, Gedung-gedung dan bangunan bertingkat hancur ber-terbangan. Air laut dengan gelombang setinggi gunung naik kedaratan sampai puluhan kilometer menghanyutkan semua yang dilaluinya. Gunung-gunung meletus secara serentak, hingga hancur menjadi batu-batu panas yang beterbangan. Tanah belah dan merekah mengeluarkan lumpur dan lahar panas. Tidak ada satu tempatpun yang aman dimuka bumi ini. Tidak ada mahluk hidup yang bisa bertahan dari kehancuran dihari itu. Seluruh manusia panik, menyelamatkan diri masing masing. Harta benda tidak ada artinya lagi, orang tidak peduli lagi dengan emas, berlian, mobil dan rumah mewah yang dimilikinya. Mereka diliputi ketakutan yang sangat, berusaha menyelamatkan diri-masing masing dari keganasan alam diwaktu itu. Tidak ada tolong menolong dihari itu, setiap orang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, mereka tidak mampu menolong atau menyelamatkan istri, anak, suami, orang tua atau teman yang mereka sayangi. Manusia dalam keadaan panik, takut dan kalut, tidak berdaya menyelamatkan diri sendiri apalagi untuk menolong orang lain, mereka tidak perduli lagi dengan harta yang mereka miliki.

Peristiwa tersebut banyak dikisahkan dalam Al-Qur’an, antara lain

1. Apabila terjadi hari kiamat, 2- terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). 3- (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), 4- apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,5- dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya,6- maka jadilah dia debu yang beterbangan, (Al Waqi’ah 1-6)

1. Apabila matahari digulung, 2.dan apabila bintang-bintang berjatuhan, 3. dan apabila gunung-gunung dihancurkan, 4. dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), .5 dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, 6.dan apabila lautan dipanaskan, (At Takwir 1-6)

1- Apabila langit terbelah,
2- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh,
3- dan apabila bumi diratakan,
4- dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,
5- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). (Insyiqoq 1-5)

1. Hari Kiamat 2- apakah hari Kiamat itu? 3- Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? 4- Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran 5- dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qori’ah 1-5)

Ketika Rasulullah ditanyakan tentang kapan terjadinya peristiwa kiamat itu, beliau mengambil sepotong kain, kemudian merobeknya hingga hampir putus. Beliau mengatakan antara aku dan saat kiamat seperti kain yang hampir putus ini (sudah sangat dekat). Pada kesempatan lain beliau mengatakan :” Antara aku dan saat kiamat seperti telunjuk dengan ibu jari ini ” . Pernah juga beliau mengatakan bahwa antara beliau dengan saat kiamat sepeti saat asar dengan maghrib (sudah dekat), padahal antara Rasulullah dengan kita pada saat ini sudah berlalu sekitar 1400 tahun lebih.

Didunia maya banyak dibahas tentang kemungkinan terjadinya kiamat pada tahun 2012, berdasarkan calendar suku Maya di Amerika latin. Para ahli juga memperkirakan ada planet Raksasa (Nibiru) yang saat ini sedang bergerak menuju system matahari kita, Jika planet tersebut masuk kedalam orbit matahari bisa menimbulkan kekacauan pada bumi kita. Planet Nibiru adalah salah satu planet yang mengelilingi matahari dengan orbit berbentuk ellips. Planet ini mendekati orbit bumi setiap 3600 tahun sekali, diperkirakan 50 tahun lagi planet tersebut akan berada sangat dekat dengan bumi. Planet tersebut mempunyai medan magnit yang lebih kuat dari bumi dan arah putaran berlawanan arah dengan bumi, kehadiran planet tersebut dapat mengakibatkan timbulnya badai, gelombang besar, gempa dan kekacauan serta berubahnya arah putaran bumi , akibatnya matahari bisa terbit dari barat….nah kalau begini apa nggak jadi kacau. Ada juga para ahli yang memperkirakan satu ketika kelak akan terjadi tabrakan antara bumi dengan salah satu asteroid sekitar tahun 2036. Perusahaan film Hollywood juga membuat beberapa film yang menceritakan peristiwa tabrakan antara bumi dengan asteroid ini seperti Film Armagedon dan Deep impack. Kisah tentang planet Nibiru ini bisa anda dapatkan di Internet dengan kalimat kunci pencarian via goggle atau Yahoo ” ancaman planet nibiru”


Saat kiamat itu sulit diperkirakan kapan terjadinya , tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya peristiwa kiamat selain Allah . Perhatikan firman Allah dalam surat Al A’raaf 187 berikut ini:


Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Al A’raaf 187)

Kita tidak pernah tahu kapan terjadinya kiamat besar (total) yaitu hancur dan musnahnya bumi ini beserta semua isinya. Namun sebelum terjadinya kiamat total kita akan menemukan banyak peristiwa kiamat kecil, berupa bencana dan kehancuran pada sebagian wilayah dibumi ini. Pada akhir akhir ini kita banyak mendengar dan menyaksikan kiamat kecil yang merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam tempo yang singkat. Misalnya bencana tsunami di Aceh yang merenggut nyawa 160.000 orang dalam sekejap mata, bencana jebolnya waduk situ Gintung, Gempa bumi dan badai di Muangthai dan China yang merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam sekejap mata. Dan banyak lagi bencana alam lainnya yang mendatangkan kematian secara masal, semua itu terjadi secara tidak terduga dan dalam waktu yang sangat singkat.











Bukan tidak mungkin pada satu ketika akan terjadi becana dahsyat yang melenyapkan nyawa ratusan juta orang dalam waktu yang singkat, bukan ratusan ribu seperti yang sering terjadi dewasa ini. Apa yang terjadi jika sebuah asteroid raksasa sebesar kota Jakarta ini jatuh di laut Fasifik atau laut Atlantik. Gelombang laut setinggi gunung akan menghantam seluruh kota yang berada di pantai lautan Fasifik, Los Angeles, Sydney, Hongkong, Hawai, Tokyo, Jakarta, dan lain lain akan lenyap dalam sekejap mata. Puluhan bahkan ratusan juta orang akan tewas dalam sekejap mata. Jika Asteroid itu jatuh didaratan Asia, Eropa atau Amerika efeknya pun akan lebih parah lagi , debu dan batu akan berhamburan menutupi angkasa, dunia akan gelap selama bertahun tahun karena angkasa tertutup debu seperti pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu yang menyebabkan lenyapnya Dinosaurus dari permukaan bumi. Suhu bumi akan turun drastis, kematian terjadi dimana mana.

Kejadian kiamat adalah kejadian yang tidak bisa dibantah, semua manusia yang hidup diabad modern ini mengakui bahwa pada suatu saat nanti kejadian tersebut pasti akan terjadi. Fakta hancur dan musnahnya kehidupan sekelompok orang dalam sekejap mata akibat bencana alam adalah kejadian nyata yang sering kita saksikan dizaman ini. Sama dengan fakta bahwa setiap orang yang hidup didunia ini pasti akan mengalami kematian, maka musnah dan berakhirnya semua kehidupan dibumi ini tidak ada seorangpun yang dapat membantahnya. Semua orang sepakat bahwa peristiwa kiamat pasti terjadi, namun mereka tidak sepakat bahwa sesudah kematian ada kehidupan lagi kelak diakhirat . Ada yang percaya bahwa dibalik kematian ada kehidupan lagi dialam akhirat kelak. Namun banyak pula manusia yang tidak percaya, mereka beranggapan bahwa kehidupan ini akan berakhir dengan datangnya kematian. Hidup hanya didunia ini saja, setelah datang kematian berakhir pulalah kehidupan itu. Pernyataan orang yang berpendapat seperti itu diabadikan dalam Al Qur’an surat al Mukminun ayat 37 , 82 dan Al Jatsiyah ayat 24 :

37- kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, (Al Mukminun 37)

Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (Al Mukminun 82)

24- Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jatsiyah 24 )

Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara, kehidupan yang sebenarnya dan abadi adalah kehidupan diakhirat kelak. Semua kita pasti akan mengalami kematian, mau tidak mau, suka atau tidak suka jika tiba saatnya kita akan dipaksa meninggalkan dunia ini. Ditempatkan Allah dialam Barzakh menunggu saat datangnya hari kiamat (kebangkitan). Mari kita persiapkan perbekalan untuk kehidupan sesudah mati kelak. Kematian dan peristiwa kiamat total hanya proses perpindahan dari alam dunia kealam akhirat, orang beriman dan yakin pada Allah dan kehidupan akhirat tidak pernah takut dan gentar menghadapi proses ini.


semoga Bermanfaat ..


Artikel terkait : guru besar Al-azhar , yusuf -al qardawi
Cairo - 22 agustus - 2009 

Ittiba’ Dalam Beramal

Suatu amalan akan diterima ALLAH jika ikhlas dan sesuai Sunnah. Berikut rincian suatu ibadah dikatakan sesuai sunnah.

Ketahuilah bahwa mutaba’ah tidak akan terwujud apabila amalan tersebut tidak sesuai dengan syari’at dalam enam hal:

1. Sebabnya
2. Jenisnya
3. Ukurannya
4. Teknisnya
5. Waktunya
6. Tempatnya

Apabila tidak sesuai dengan syari’at dalam enam hal ini, maka amalan tersebut dikatakan bathil dan tertolak, sebab ia melakukan suatu hal dalam agama Allah yang tidak ada sandaran darinya.

1. Sebabnya

Amalan harus sesuai dengan syari’at dalam sebabnya. Hal itu seperti seseorang melakukan ibadah dengan yang tidak pernah Allah sebutkan, misalkan; dia shalat dua raka’at setiap kali memasuki rumahnya dan menjadikan hal ini sebagai perbuatan Sunnah. Seperti ini tertolak. Walaupun perkara shalat pada dasarnya disyari’atkan, tetapi ketika ia kaitkan dengan sebab yang tidak bersumber dari syar’at, maka hal ini mengakibatkan ibadah tersebut tertolak. Contoh yang lain: apabila seseorang membuat perayaan dengan sebab kemenangan kaum Muslimin pada Badar, maka hal ini pun tertolak, sebab ia mengaitkannya sebab yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

2. Jenisnya

Bila seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah tidak pernah disyari’atkan agama dalam hal jenisnya, maka tidak akan diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berkurban dengan kuda, maka hal ini tertolak, sebab menyelisihi perintah syariat dalam hal jenis, dimana syar’at Islam memerintahkan harus dari jenis binatang ternak tertentu, yaitu: unta, sapi dan kambing. Adapun seseorang yang memotong kuda dengan niat mensadaqahkan dagingnya maka hal itu diperbolehkan, sebab ia tidak dikatakan berkurban kepada Allah dengan menyembelihnya, hanya menyembelihnya untuk dishadaqahkan dagingnya.

3. Ukurannya

Apabila seseorang beribadah kepada Allah dengan ukuran yang lebih dari ukuran yang telah ditentukan syari’at maka hal itu tidak diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berwudhu’ dengan membasuh setiap bagian sebanyak empat kali, maka yang keempat tertolak, sebab hal itu melebihi ketentuan syari’at. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam berwudhu’ tiga kali-tiga kali, lalu beliau bersabda, yang artinya:

مَنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

“Barangsiapa yang melebihkannya, maka ia telah berbuat jelek, melampaui batas dan berbuat kezhaliman (HR. Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)

4. Sesuai teknisnya

Apabila seseorang mengamalkan sesuatu dalam rangka beribadah kepada-Nya tetapi menyelisihi syari’at dalam hal teknisnya, maka tidak akan diterima, dan hal itu tertolak. Contoh: seseorang shalat, ia langsung bersujud sebelum melakukan ruku’, maka shalatnya tidak sah dan tertolak, sebab tidak sesuai dengan teknis tuntunan syari’at.

Demikian pula dalam hal wudhu’ dengan cara berbalik seperti memulai dengan membasuh kaki sebelum mengusap kepala setelah itu membasuh tangan lalu muka, apabila berwudhu’ dengan teknis seperti ini maka tidak sah, sebab tidak mengikuti perintah syari’at dalam hal teknis atau tata-caranya.

5. Sesuai dengan syari’at dalam hal waktunya

Bila seseorang shalat sebelum masuk waktunya, maka shalatnya tidak mungkin diterima sebab ia menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari’at. Juga bila menyembelih kurban sebelum mengadakan shalat `Id, inipun tertolak, sebab menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari’at.

Apabila seseorang beri’tikaf pada selain waktunya, maka hal itu tidak sesuai dengan pedomannya, namun hal ini diperbolehkan sebab Rasulullah ‘, membolehkan `Umar bin al-Khaththab beri’tikaf di Masjidil Haram ketika beliau bernadzar.

Apabila seseorang mengakhirkan suatu ibadah yang telah ditentukan waktunya oleh syari’at tanpa adanya alasan yang dibenarkan, seperti shalat Shubuh setelah terbit matahari tanpa udzur, maka (dengan sikap seperti ini) shalatnya tertolak, sebab ia telah beramal dengan amalan yang tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

6. Sesuai dalam ketentuan

Apabila seseorang beri’tikaf di sekolah atau di rumah, bukan di mesjid, maka amalannya ini tidak sah, sebab tidak sesuai dengan tuntunan syari’at dalam ketentuan tempatnya, di mana ibadah I’tikaf harus dilakukan di masjid.

Maka perhatikanlah keenam hal di atas dan wujudkanlah dalam setiap yang diwajibkan kepadamu. Berikut ini beberapa permisalan di antara perkara yang tertolak sebab menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya:

Contoh 1

Orang yang berjual beli setelah adzan kedua pada hari Jum’at dan ia termasuk golongan yang diwajibkan menghadiri shalat jum’at, maka akad transaksinya tidak sah, sebab ia menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila hal ini terjadi maka wajib dibatalkan, masing-masing mengembalikan uang dan barangnya.

Hal ini berdasarkan sebuah riwayat bahwa ketika Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dikabarkan bahwa kurma yang baik sebanyak satu sha’ ditukar dengan dua sha’ (yang jelek), dua sha’ dengan tiga sha’. Seketika Rasulullah bersabda, yang artinya: Kembalikan! Artinya kembalikan barang dagangannya, sebab telah menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Contoh 2

Seseorang wanita menikahkan dirinya tanpa adanya wali, maka pernikahannya pun tidak sah, sebab Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali

Contoh 3

Seseorang yang mentalak isterinya dalam keadaan haid, apakah talaknya dianggap atau tidak?

Jawab: Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tatkala seseorang mengatakan kepada Imam Ahmad rahimahullah, pendapat bahwa talak ketika sang isteri sedang haid dibolehkan (terjadi), seketika beliau berkata Itu pendapat jelek. Inilah perkataan Imam Ahmad rahimahullah yang ilmunya sangat piawai dalam hadits dan fiqih, beliau mengingkari perkataan tersebut.

Demikian pula sebagian ulama ada yang mengingkari pendapat bahwa talak di saat haidh tidak terjadi, mereka berpendapat sebaliknya, yakni bahwa hal itu terjadi dan dianggap talak satu. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal itu tidak terjadi, seperti pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, walhasil ini termasuk masalah khilafiyyah (diperselisihkan).

Saya (syaikh ibnu utsaimin rohimahulloh) menyebutkannya di sini dengan maksud jangan sampai orang-orang gampang menfatwakan tidak menganggap terjadinya talak diwaktu haid, bahkan kalian harus memberlakukan hukum tersebut kepada mereka sebagaimana mereka sengaja melakukannya.
Meskipun talak dengan lafazh tiga kali dengan satu ucapan, pada masa Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan dua tahun masa pemerintahan `Umar dihitung satu kali. Namun ketika manusia berani (menyepelekan) perkara yang haram, maka `Umar radhiallahu’anhu menghukumi mereka dengan menjatuhkannya (menganggapnya tiga kali), seraya beliau berkata: “Engkau tidak boleh kembali kepada isterimu, sebab kamu sendiri yang menyengaja menceraikannya tiga kali.”

Saya (syaikh ibnu utsaimin rohimahulloh) pun setuju dengan pendapat ini (dianggap terjadi), sebab kebanyakan manusia sekarang suka mempermainkannya, di saat orang awam datang dan mengatakan bahwa dirinya telah menceraikan isterinya dalam keadaan haidh sejak sepuluh tahun yang lalu, dan Anda katakan padanya; Hal itu dianggap terjadi, lantas ia berkata padamu: Itu hanya talak di waktu haid dan dianggap talak bid’ah. Orang ini mengatakan demikian padahal dirinya awam. la tidak tahu mana pergelangan tangan di antara kumpulan manusia (ungkapan yang menunjukkan kebodohannya), dan ia mengatakan demikian sebab hawa nafsunya.

Apakah mungkin kita fatwakan bahwa talak Anda tidak terjadi?!

Jawab: Tidak mungkin kita lakukan demikian, sebab di pundak kita pertanggungjawaban yang sangat agung di hari Kiamat kelak. Bahkan kita katakan padanya: Anda telah mewajibkan diri Anda, maka hal itu harus Anda ikuti.

Bagaimana menurutmu apabila isterimu telah habis masa `iddahnya dari penceraian itu dan ia menikah dengan laki-laki lain, apakah kamu akan mendatangi suami barunya dan berkata: `Perempuan ini isteri saya?!!’

Tentu Anda tidak akan berkata seperti ini. Maka apabila dia berpendapat bahwa talak tiga itu berlaku (seperti pendapat kami), maka tentunya ia tidak akan membuka pintu (thalak) ini (untuk dipermainkan).

Walhasil, talak dalam keadaan haidh mayoritas ulama menyatakannya berlaku. Dan pendapat yang mengatakan sebaliknya, Imam Ahmad mengomentarinya dengan perkataan beliau: Ini pendapat yang buruk, artinya tidak pantas untuk dijadikan pedoman.

Contoh 4

Seseorang menjual satu uqiyah (ukuran) emas dengan satu setengah uqiyah, maka yang seperti ini dikatakan jual beli yang bathil (tidak sah), sebab Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Jangan kalian menjual emas dengan emas kecuali dengan ukuran dan berat yang sama “(HR. Bukhari, Muslim)

Contoh 5

Seseorang shalat dengan mengenakan baju curian. Mayoritas ulama mengatakan: shalatnya sah, sebab larangan di sini tidak berkaitan dengan shalat tetapi larangannya hanya tentang mencuri baju. Apakah baju itu dipakai untuk shalat atau tidak, maka tidak berkaitan dengan shalat. Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam sendiri tidak mengatakan: Janganlah kalian shalat dengan mengenakan baju curian. Beliau hanya melarang mencuri dan mengharamkannya dan tidak mengaitkannya dengan masalah shalat.

Contoh 6

Seseorang shalat sunnah tanpa adanya alasan pada saat waktu larangan shalat, maka amalannya ini tertolak sebab hal itu terlarang baginya.

Contoh 7

Seseorang puasa pada hari raya `Idul Fithri, maka puasanya tertolak sebab ia melakukannya pada waktu larangan baginya.

Contoh 8

Seseorang berwudhu’ dengan air curian, maka hal itu tetap sah, sebab larangan di sini berkenaan dengan mencuri air, tidak berkenaan langsung dengan wudhu’ dengan air tersebut. Apabila larangan dimaksud berkenaan dengan wujud ibadah itu sendiri, maka ibadah ini tidak sah. Tetapi bila larangan ini bersifat umum, maka hal itu tidak berkait dengan sah atau tidaknya suatu ibadah.

Contoh 9

Seseorang mencurangi temannya dengan cara menipunya dalam hal jual beli, maka hasil jual belinya tetap dikatakan sah, sebab larangan di sini hanya berkisar tentang tipu-menipu. Apabila orang yang tertipu ini menerima hasil jual belinya, maka hal itu tetap dikatakan sah. Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Janganlah kalian menghadang al-jalab (sebelum sampai ke pasar). Apabila kalian menemui (jalab) dan membeli sesuatu darinya, kemudian majikannya (orang kampung yang membawa jalab itu) mendatangi pasar, maka harus dilakukan pilihan (tawar menawar) kembali.” (HR. Muslim)

Al-jalab adalah barang-barang yang dibawa oleh orang Arab perkampungan berupa hewan ternak, bahan makanan dan selainnya, [di mana mereka tidak mengetahui harga pasaran dari barang-barang dagangannya]. Dalam hal ini Rasulullah tidak mengatakan: Maka jual belinya bathil (tidak sah), bahkan telah sah, namun orang yang dihadangnya (orang kampung itu) berhak untuk mengadakan tawar-menawar harga lagi, karena ia menjadi pihak yang telah dirugikan.

Harus dibedakan antara larangan yang berkaitan dengan wujud suatu amalan dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengannya. Apabila berkaitan dengan wujudnya, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tertolak (tidak benar), sebab jika Anda memaksanya menganggap benar, berarti Anda menentang Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika berkait dengan sesuatu di luar amalan, maka amalan tersebut tetap dikatakan shahih, dan dosa dalam amalan yang Anda amalkan (berupa menipu atau mencuri) adalah diharamkan (dengan dalil tersendiri).

Contoh 10.

Seseorang berhaji dengan harta curian, misalkan dengan mencuri unta kemudian berhaji dengan hasil penjualannya. Hajinya tetap shahih, dan inilah pendapat mayoritas ulama, akan tetapi dirinya berdosa dengan mencuri unta tersebut, atau dengan mencuri mobil misalkan. Sebab perbuatan mencuri ini ada di luar ibadah tersebut. Bukti (bahwa biaya haji itu di luar ibadah hajinya), ialah terkadang ada seseorang yang berhaji tanpa mengunakan biaya kendaraan. Sebagian ulama menghukuminya dengan tidak shahih, dan keputusan mereka ini dilantunkan dalam satu bait syair:

إذا حججتَ بمالٍ أصلُهُ سُحْتٌ
ضفما حججتَ ولكنْ حجَّتِ العيرُ

Jika kamu berhaji dengan harta yang asalnya dosa (haram)
Maka kamu tidak berhaji, akan tetapi untanyalah yang berhaji.

Dalam riwayat Muslim: “Siapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang-bukan urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak.” Dalam riwayat ini tersurat bahwa apabila dalam suatu amalan tidak berlandaskan pada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu secara pasti akan tertolak. Dalam masalah ibadah, tanpa diragukan lagi ketentuan ini berlaku, sebab perkara ibadah berpatokan pada prinsip yang baku (bahwa pada asalnya dilarang), hingga adanya dalil yang menjadikannya disyari’atkan.

Jika ada seseorang mengadakan satu bentuk peribadatan kepada Allah Ta’ala, lalu orang lain mengingkarinya, kemudian ia balik bertanya: Apa dalilmu kalau hal itu perbuatan haram? Sanggahan seperti ini jelas mungkarnya. Maka pengingkar harus berkata: Dalilnya adalah bahwa pada dasarnya ibadah itu hukumnya terlarang, hingga adanya dalil yang mensyari’atkannya. Adapun pada selain ibadah (mu’amalah), hukum asalnya adalah boleh (selama tidak ada dalil yang melarangnya), baik yang berkaitan dengan pelakunya maupun perbuatannya, karena pada dasarnya berhukum halal/boleh.

Contoh pelaku (perbuatan selain ibadah), misalnya: seseorang memburu burung untuk memakannya, lalu orang lain mengingkarinya. Kemudian ia menyanggah: Apa dalil keharamannya? Sanggahan dia benar, sebab asal hukum berburu burung adalah halal, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Contoh perbuatan pada selain ibadah yang hukum asalnya halal: si A mengerjakan sesuatu di rumahnya atau pada mobilnya, pakaiannya atau apa saja yang berkaitan dengan perkara dunia, kemudian si B mengingkarinya. Lalu si A menyanggah dan bertanya: Apa dalilmu mengharamkan perbuatan saya? Ucapanya A dibenarkan sebab asal perbuatannya dihalalkan.

Inilah 2 kaidah yang sangat penting dan bermanfaat (yaitu bahwa ibadah itu hukum asalnya dilarang, sampai ada dalil yang melegalkannya. Sebaliknya, muamalah itu pada asalnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Atas dasar ini, dalam masalah ibadah kita harus memperhatikan tiga kesimpulan:

1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkan suatu ibadah, maka itu berarti disyariatkan
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka berarti hal itu terlarang
3. Apa yang tidak kita ketahui bahwa suatu hal tidak termasuk ibadah, maka hal itu terlarang

Adapun dalam masalah muamalah, kitapun harus memperhatikan 3 tiga kesimpulan:

1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkannya, maka hal itu berarti boleh, seperti amalan Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam memakan keledai liar
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka hal itu berarti dilarang
3. Dan apa yang tidak kita ketahui ketentuan hukumnya, maka hal itu berarti dibolehkan, sebab hukum asal pada selain ibadah adalah boleh.

Syarh Arbain Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=192


1.Larangan Beramal Untuk Tujuan Dunia


tulah yang sering kita lihat pada umat Islam saat ini. Mereka memang gemar melakukan puasa sunnah (yaitu puasa Senin-Kamis dan lainnya), namun semata-mata hanya untuk menyehatkan badan sebagaimana saran dari beberapa kalangan. Ada juga yang gemar sekali bersedekah, namun dengan tujuan untuk memperlancar rizki dan karir. Begitu pula ada yang rajin bangun di tengah malam untuk bertahajud, namun tujuannya hanyalah ingin menguatkan badan. Semua yang dilakukan memang suatu amalan yang baik. Tetapi niat di dalam hati senyatanya tidak ikhlash karena Allah, namun hanya ingin mendapatkan tujuan-tujuan duniawi semata. Kalau memang demikian, mereka bisa termasuk orang-orang yang tercela sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

Dengan Amalan Sholeh Hanya Mengharap Keuntungan Dunia, Sungguh Akan Sangat Merugi

Allah Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud 11 : 15-16)

Yang dimaksud dengan “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia” yaitu barangsiapa yang menginginkan kenikmatan dunia dengan melakukan amalan akhirat.

Yang dimaksud “perhiasan dunia” adalah harta dan anak.

Mereka yang beramal seperti ini: “niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan”. Maksudnya adalah mereka akan diberikan dunia yang mereka inginkan. Ini semua diberikan bukan karena mereka telah berbuat baik, namun semata-mata akan membuat terlena dan terjerumus dalam kebinasaan karena rusaknya amalan mereka. Dan juga mereka tidak akan pernah yubkhosuun, yaitu dunia yang diberikan kepada mereka tidak akan dikurangi. Ini berarti mereka akan diberikan dunia yang mereka cari seutuhnya (sempurna).

Dunia, mungkin saja mereka peroleh. Dengan banyak melakukan amalan sholeh, boleh jadi seseorang akan bertambah sehat, rizki semakin lancar dan karir terus meningkat. Dan itu senyatanya yang mereka peroleh dan Allah pun tidak akan mengurangi hal tersebut sesuai yang Dia tetapkan. Namun apa yang mereka peroleh di akhirat?

Lihatlah firman Allah selanjutnya (yang artinya), “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka”. Inilah akibat orang yang hanya beribadah untuk mendapat tujuan dunia saja. Mereka memang di dunia akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Adapun di akhirat, mereka tidak akan memperoleh pahala karena mereka dalam beramal tidak menginginkan akhirat. Ingatlah, balasan akhirat hanya akan diperoleh oleh orang yang mengharapkannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’: 19)

Orang-orang seperti ini juga dikatakan: “lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. Ini semua dikarenakan mereka dahulu di dunia beramal tidak ikhlas untuk mengharapkan wajah Allah sehingga ketika di akhirat, sia-sialah amalan mereka. (Lihat penjelasan ayat ini di I’aanatul Mustafid, 2/92-93)

Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa sunnah dan banyak sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memperlancar rizki, umur panjang, dan lain sebagainya.

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memperoleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.” Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.

Qotadah mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

Hanya Beramal Untuk Menggapai Dunia, Tidak Akan Dapat Satu Bagianpun Di Akhirat

Kenapa seseorang beribadah dan beramal hanya ingin menggapai dunia? Jika seseorang beramal untuk mencari dunia, maka dia memang akan diberi. Jika shalat tahajud, puasa senin-kamis yang dia lakukan hanya ingin meraih dunia, maka dunia memang akan dia peroleh dan tidak akan dikurangi. Namun apa akibatnya di akhirat? Sungguh di akhirat dia akan sangat merugi. Dia tidak akan memperoleh balasan di akhirat disebabkan amalannya yang hanya ingin mencari-cari dunia.

Namun bagaimana dengan orang yang beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah? Di akhirat dia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.

Allah Ta’ala berfirman,

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)

Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas, “Barangsiapa yang mencari keuntungan di akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya karena tujuan akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai akhirat sama sekali, maka balasan akhirat tidak akan Allah beri dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”

Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baiaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memperoleh satu bagian pun di akhirat. ”

Tanda Seseorang Beramal Untuk Tujuan Dunia

Al Bukhari membawakan hadits dalam Bab “Siapa yang menjaga diri dari fitnah harta”.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Celakalah hamba dinar, dirham, qothifah dan khomishoh. Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridho, dia akan celaka dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari). Qothifah adalah sejenis pakaian yang memiliki beludru. Sedangkan khomishoh adalah pakaian yang berwarna hitam dan memiliki bintik-bintik merah. (I’aanatul Mustafid, 2/93)

Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadits tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Di antara tanda bahwa mereka beramal untuk menggapai harta-harta tadi atau ingin menggapai dunia disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya: “Jika diberi, dia pun ridho. Namun jika tidak diberi, dia pun tidak ridho (murka), dia akan celaka dan kembali binasa”. Hal ini juga yang dikatakan kepada orang-orang munafik sebagaimana dalam firman Allah,

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At Taubah: 58)

Itulah tanda seseorang dalam beramal hanya ingin menggapai tujuan dunia. Jika dia diberi kenikmatan dunia, dia ridho. Namun, jika kenikmatan dunia tersebut tidak kunjung datang, dia akan murka dan marah. Dalam hatinya seraya berujar, “Sudah sebulan saya merutinkan shalat malam, namun rizki dan usaha belum juga lancar.” Inilah tanda orang yang selalu berharap dunia dengan amalan sholehnya.

Adapun seorang mukmin, jika diberi nikmat, dia akan bersyukur. Sebaliknya, jika tidak diberi, dia pun akan selalu sabar. Karena orang mukmin, dia akan beramal bukan untuk mencapai tujuan dunia. Sebagian mereka bahkan tidak menginginkan mendapatkan dunia sama sekali. Diceritakan bahwa sebagian sahabat tidak ridho jika mendapatkan dunia sedikit pun. Mereka pun tidak mencari-cari dunia karena yang selalu mereka harapkan adalah negeri akhirat. Semua ini mereka lakukan untuk senantiasa komitmen dalam amalan mereka, agar selalu timbul rasa harap pada kehidupan akhirat. Mereka sama sekali tidak menyukai untuk disegerakan balasan terhadap kebaikan yang mereka lakukan di dunia.

Akan tetapi, barangsiapa diberi dunia tanpa ada rasa keinginan sebelumnya dan tanpa ada rasa tamak terhadap dunia, maka dia boleh mengambilnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits dari ‘Umar bin Khottob,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan suatu pemberian padaku.” Umar lantas mengatakan, “Berikan saja pemberian tersebut pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku. Sampai beberapa kali, beliau tetap memberikan harta tersebut padaku.” Umar pun tetap mengatakan, “Berikan saja pada orang yang lebih butuh (lebih miskin) dariku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Ambillah harta tersebut dan harta yang semisal dengan ini di mana engkau tidak merasa mulia dengannya dan sebelumnya engkau pun tidak meminta-mintanya. Ambillah harta tersebut. Selain harta semacam itu (yang di mana engkau punya keinginan sebelumnya padanya), maka biarkanlah dan janganlah hatimu bergantung padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sekali lagi, begitulah orang beriman. Jika dia diberi nikmat atau pun tidak, amalan sholehnya tidak akan pernah berkurang. Karena orang mukmin sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang yang selalu mengharap dunia dengan amalan sholehnya, dia akan bersikap berbeda. Jika dia diberi nikmat, baru dia ridho. Namun, jika dia tidak diberi, dia akan murka dan marah. Dia ridho karena mendapat kenikmatan dunia. Sebaliknya, dia murka karena kenikmatan dunia yang tidak kunjung menghampirinya padahal dia sudah gemar melakukan amalan sholeh. Itulah sebabnya orang-orang seperti ini disebut hamba dunia, hamba dinar, hamba dirham dan hamba pakaian.

Beragamnya Niat dan Amalan Untuk Menggapai Dunia

Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:

Pertama, Jika niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat

Maka orang semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin. Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat.

Kedua, Jika niat seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati

Maka semacam ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.

Ketiga, Adapun jika seseorang telah beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil untuk membantunya dalam beramal

Semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan upah dari negara setiap bulannya, maka tidak mengapa mengambil upah tersebut. Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama. (Lihat Al Qoulus Sadiid, 132-133)

Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk mendapatkan balasan dunia ada dua macam:

Pertama, Amalan yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia.

Maka semacam ini tidak diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan. Misalnya: Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah laki-laki. Ini tidak dibolehkan karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.

Kedua, Amalan yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua.

Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan dunia saja dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan ikhlash, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat untuknya karena syari’at telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan ini.

Perbedaan dan Kesamaan Beramal untuk Meraih Dunia dengan Riya’

Syaikh Muhammad At Tamimi – rahimahullah – membawakan pembahasan ini dalam Kitab Tauhid pada Bab “Termasuk kesyirikan, seseorang beribadah untuk mencari dunia”. Beliau –rahimahullah- membawakannya setelah membahas riya’. Kenapa demikian?

Riya’ dan beribadah untuk mencari dunia, keduanya sama-sama adalah amalan hati dan terlihat begitu samar karena tidak nampak di hadapan orang banyak. Namun, Keduanya termasuk amalan kepada selain Allah Ta’ala. Ini berarti keduanya termasuk kesyirikan yaitu syirik khofi (syirik yang samar). Keduanya memiliki peredaan. Riya’ adalah beramal agar dilihat oleh orang lain dan ingin tenar dengan amalannya. Sedangkan beramal untuk tujuan dunia adalah banyak melakukan amalan seperti shalat, puasa, sedekah dan amalan sholeh lainnya dengan tujuan untuk mendapatkan balasan segera di dunia semacam mendapat rizki yang lancar dan lainnya.

Tetapi perlu diketahui, para ulama mengatakan bahwa amalan seseorang untuk mencari dunia lebih nampak hasilnya daripada riya’. Alasannya, kalau seseorang melakukan amalan dengan riya’, maka jelas dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun, untuk amalan yang kedua, dia akan peroleh kemanfaatan di dunia. Akan tetapi, keduanya tetap saja termasuk amalan yang membuat seseorang merugi di hadapan Allah Ta’ala. Keduanya sama-sama bernilai syirik dalam niat maupun tujuan. Jadi kedua amalan ini memiliki kesamaan dari satu sisi dan memiliki perbedaan dari sisi yang lain.

Kenapa Engkau Tidak Ikhlash Saja dalam Beramal?

Sebenarnya jika seseorang memurnikan amalannya hanya untuk mengharap wajah Allah dan ikhlash kepada-Nya niscaya dunia pun akan menghampirinya tanpa mesti dia cari-cari. Namun, jika seseorang mencari-cari dunia dan dunia yang selalu menjadi tujuannya dalam beramal, memang benar dia akan mendapatkan dunia tetapi sekadar yang Allah takdirkan saja. Ingatlah ini … !!

Semoga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi renungan bagi kita semua,

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini di Tuhfatul Ahwadzi, 7/139)

Marilah – saudaraku -, kita ikhlashkan selalu niat kita ketika kita beramal. Murnikanlah semua amalan hanya untuk menggapai ridho Allah. Janganlah niatkan setiap amalanmu hanya untuk meraih kenikmatan dunia semata. Ikhlaskanlah amalan tersebut pada Allah, niscaya dunia juga akan engkau raih. Yakinlah hal ini …!!

Semoga Allah selalu memperbaiki aqidah dan setiap amalan kaum muslimin. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:
1. Al Qoulus Sadiid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Wizarotusy syu’un Al Islamiyyah wal Awqof wad Da’wah wal Irsyad-Al Mamlakah Al ‘Arobiyah As Su’udiyah.
2. I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan.
3. At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Sholeh bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, Daar At Tauhid.
4. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi, Tahqiq: Saami bin Muhammad Salamah, Dar Thobi’ah Lin Nasyr wat Tauzi’.

5. Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jaami’it Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdirrahim Al Mubarakfuriy Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.wordpress.com/)
Judul Asli: Banyak Shalat, Puasa dan Sedekah Hanya Untuk Memperlancar Rizki


2.Ikhlash Dalam Beramal.

Hakikat Ikhlash

Ikhlash adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan akan tetapi betapa sulitnya direalisasikan. Sampai-sampai sebagian ulama salaf menyatakan: “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwasanya dirinya telah ikhlash maka sungguh dia butuh untuk ikhlash lagi”, sebagaimana diucapkan oleh As-Susiy.

Hal ini dikarenakan apabila seseorang merasa telah ikhlash dalam ucapan dan perbuatannya berarti dia telah berbuat ‘ujub (kagum dan bangga dengan amalnya) yang akan menghapuskan amalannya tersebut. Sedangkan orang yang ikhlash adalah orang yang amalnya bersih dari seluruh hal yang akan menghapuskannya seperti riya`, sum’ah, ’ujub dan yang lainnya.

Berkata Ya’qub: “Orang yang ikhlash adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekannya.”

Kecuali kalau dalam rangka agar orang lain mengikuti perbuatan baiknya maka boleh menampakkan perbuatannya tersebut karena ada maslahat bagi orang lain.

Berkata Ayyub: “Memurnikan niat bagi orang-orang yang beramal itu lebih berat atas mereka daripada (mengerjakan) seluruh amalan-amalan.”

Berkata sebagian ulama salaf: “Ikhlash sesaat adalah keselamatan selama-lamanya, akan tetapi ikhlash itu adalah sesuatu yang sangat sulit.”

Ketika Suhail ditanya: “Apakah yang paling berat bagi jiwa?” Maka beliau menjawab: “Ikhlash, karena padanya tidak ada bagian yang lainnya.”

[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]

Hakikat riya’

Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan. Sedangkan yang dimaksud dengan riya’ adalah memperlihatkan (memperbagus) suatu amalan ibadah tertentu seperti shalat, shaum (puasa), atau lainnya dengan tujuan agar mendapat perhatian dan pujian manusia. Semakna dengan riya’ adalah Sum’ah yaitu memperdengarkan suatu amalan ibadah tertentu yang sama tujuannya dengan riya’ yaitu supaya mendapat perhatian dan pujian manusia.

Para pembaca yang mulia, perlu diketahui bahwa segala amalan itu tergantung pada niatnya. Bila suatu amalan itu diniatkan lkhlas karena Allah subhanahu wata’ala maka amalan itu akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Begitu juga sebaliknya, bila amalan itu diniatkan agar mendapat perhatian, pujian, atau ingin meraih sesuatu dari urusan duniawi, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala.

Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ’alaihi)

Ibadah merupakan hak Allah subhanahu wata’ala yang bersifat mutlak. Bahwa ibadah itu murni untuk Allah subhanahu wata’ala, tidak boleh dicampuri dengan niatan lain selain untuk-Nya. Sebagaimana peringatan Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya (artinya):

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Alangkah indahnya perkataan imam al-fudhail bin iyadh dalam menjelaskan riya’ :

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.”

Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya` seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri. Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.

[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]

Hukum Riya’

Riya’ merupakan dosa besar. Karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil.

Sebagaimana hadits di atas dari shahabat Mahmud bin Labid, Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” Selain riya’ merupakan syirik kecil, ia pun mendatangkan berbagai macam mara bahaya.

Perlu diketahui, meskipun riya’ “hanya” syirik asghar, kita tidak boleh meremehkannya karena syirik asghar termasuk dosa besar yang dosanya lebih besar dari zina, merampok atau yang semisal.

Bahaya Riya’

Penyakit riya’ merupakan penyakit yang sangat berbahaya, karena memilki dampak negatif yang luar biasa.

Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian menghilangkan pahala sedekahmu dengan selalu menyebut-nyebut dan dengan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang-orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari akhir”. (Al Baqarah: 264)

Dalam konteks ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memberitakan akibat amalan sedekah yang selalu disebut-sebut atau menyakiti perasaan si penerima maka akan berakibat sebagaimana akibat dari perbuatan riya’ yaitu amalan itu tiada berarti karena tertolak di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Ayat di atas tidak hanya mencela perbuatanya saja (riya’), tentu celaan ini pun tertuju kepada pelakunya. Bahkan dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wata’ala mengancam bahwa kesudahan yang akan dialami orang-orang yang berbuat riya’ adalah kecelakaan (kebinasaan) di akhirat kelak. Sebagaimana firman-Nya:

“Wail (Kecelakaanlah) bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’, … ” (Al Maa’uun: 4-7)

Diperkuat lagi, adanya penafsiran dari Ibnu Abbas radhiallahu ’anhuma, makna Al Wail adalah ungkapan dari dasyatnya adzab di akhirat kelak. (Tafsir Ibnu Katsir 1/118)

Sedangkan dalam hadits yang shahih, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ancaman bagi orang yang berbuat riya’ yaitu Allah subhanahu wata’ala akan meninggalkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Allah subhanahu wata’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan kesyirikan bersama-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu”.

Bila Allah subhanahu wata’ala meninggalkannya siapa lagi yang dapat menyelamatkan dia baik di dunia dan di akhirat kelak? Dalam hadits lain, Allah subhanahu wata’ala benar-benar akan mencampakkan pelaku perbuatan riya’ ke dalam An Naar.

Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al Imam Muslim, bahwa yang pertama kali dihisab di hari kiamat tiga golongan manusia: pertama; seseorang yang mati di medan jihad, kedua; pembaca Al Qur’an, dan yang ketiga; seseorang yang suka berinfaq. Jenis golongan manusia ini Allah subhanahu wata’ala campakkan dalam An Naar karena mereka beramal bukan karena Allah subhanahu wata’ala namun sekedar mencari popularitas. (Lihat HR. Muslim no. 1678)

Perlu diketahui, bahwa riya’ yang dapat membatalkan sebuah amalan adalah bila riya’ itu menjadi asal (dasar) suatu niatan. Bila riya’ itu muncul secara tiba-tiba tanpa disangka dan tidak terus menerus, maka hal ini tidak membatalkan sebuah amalan.

Pengobatan Riya’

Di antara cara untuk mencegah dan mengobati perbuatan riya’ adalah:

1. Mengetahui dan memahami keagungan Allah subhanahu wata’ala, yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.

Ketahuilah, Allah subhanahu wata’ala adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat serta Maha Mengetahui apa-apa yang nampak ataupun yang tersembunyi. Maka akankah kita merasa diperhatikan dan diawasi oleh manusia sementara kita tidak merasa diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala?

Bukankah Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):“Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya”, …” (Ali Imran: 29)

2. Selalu mengingat akan kematian.

Ketahuilah, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian. Ketika seseorang selalu mengingat kematian maka ia akan berusaha mengikhlaskan setiap ibadah yang ia kerjakan. Ia merasa khawatir ketika ia berbuat riya’ sementara ajal siap menjemputnya tanpa minta izin /permisi terlebih dahulu. Sehingga ia khawatir meninggalkan dunia bukan dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya) tapi su’ul khatimah (jelek akhirnya).

3. Banyak berdo’a dan merasa takut dari perbuatan riya’.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita do’a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil. Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia takutlah akan As Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut. Maka berkata padanya: “Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut? Maka berkata Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam :” Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.”

4. Terus memperbanyak mengerjakan amalan shalih.

Berusahalah terus memperbanyak amalan shalih, baik dalam keadaan sendirian atau pun dihadapan orang lain. Karena tidaklah dibenarkan seseorang meninggalkan suatu amalan yang mulia karena takut riya’. Dan Islam menganjurkan umat untuk berlomba-lomba memperbanyak amalan shalih. Bila riya’ itu muncul maka segeralah ditepis dan jangan dibiarkan terus menerus karena itu adalah bisikan setan.

Apa yang kita amalkan ini belum seberapa dibandingkan amalan, ibadah, ilmu dan perjuangan para shahabat dan para ulama’. Lalu apa yang akan kita banggakan? Ibadah dan ilmu kita amatlah jauh dan jauh sekali bila dibandingkan dengan ilmu dan ibadah mereka.
Berusaha untuk tidak menceritakan kebaikan yang kita amalkan kepada orang lain, kecuali dalam keadaan darurat. Seperti, bila orang berpuasa yang bertamu, kemudian dijamu. Boleh baginya mengatakan bahwa ia dalam keadaan berpuasa. (Lihat HR. Al Imam Muslim dari sahabat Zuhair bin Harb no. 1150)

Namun boleh pula baginya berbuka (membatalkan puasa selama bukan puasa yang wajib) untuk menghormati jamuan tuan rumah.

Beberapa perkara yang bukan termasuk riya’

1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapatkan pujian dari manusia tanpa ia kehendaki.

Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Abu Dzar, bahwa ada seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam : “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal (secara ikhlas) dengan amal kebaikan yang kemudian manusia memujinya?” Maka Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam menjawab: “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin”.

2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan Islam.

Diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dari shahabat Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Tidaklah masuk Al Jannah seseorang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah (setitik) dari kesombongan.” Berkata seseorang: “(Bagaimana jika) seseorang menyukai untuk memperindah pakaian dan sandal yang ia kenakan? Seraya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala itu indah dan menyukai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”.

3. Beramal karena memberikan teladan bagi orang lain.

Hal ini sering dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Seperti Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam shalat diatas mimbar bertujuan supaya para shahabat bisa mencontohnya. Demikian pula seorang pendidik, hendaknya dia memberikan dan menampakkan suri tauladan atau figur yang baik agar dapat diteladani oleh anak didiknya. Ini bukanlah bagian dari riya’, bahkan Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الإِْسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mengamalkannya, maka dicatat baginya kebaikan seperti orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun dari kebaikannya.” (HR. Muslim no. 1017)

4. Bukan termasuk riya’ pula bila ia semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal.

Karena ia merasa terpacu dan terdorong untuk beramal shalih. Namun hendaknya orang ini selalu mewaspadai niat dalam hatinya dan berusaha untuk selalu semangat beramal meskipun tidak ada orang yang mendorongnya.

Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu

Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama: “Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela.” (Al-Majmuu’ 1/23)

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:

“Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)

Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata:

“Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku.” (Ibid. 1/338)

Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata:

“Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara.” (Ibid. 1/338)



3.Syarat Diterimanya Amal.


MUQODDIMAH

Setelah merangkumkan bab ilmu, maka yang kita pelajari sekarang adalah mengamalkan ilmu yang telah kita miliki. Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an, yang artinya: “Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)

Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. (Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169)

Allah berfirman, yang artinya: “Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohu ’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. (Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170)

Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)

Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

SYARAT DITERIMANYA AMAL

Alloh subahanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang melakukan ketaatan kepadaNya dalam firmanNya, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminuun: 57-61).

Ibunda ’Aisyah rodhiAllohu ’anha berkata, yang artinya: “Aku bertanya kepada Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam tentang ayat ini, aku berkata: Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina dan mencuri? Beliau shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam menjawab: “Bukan wahai putri ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melakukan shalat, dan bersedekah, namun mereka juga merasa takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan.” (HR. Tirmidzi no. 3099 disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi 3175. as-Syamilah)

Para salafush shaleh bersungguh-sungguh dalam memperbaiki dan menyempurnakan amal mereka kemudian setelah itu mereka memperhatikan dikabulkannya amal tersebut oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dan takut daripada ditolaknya.

Shohabat Ali rodhiAllohu ‘anhu berkata, yang artinya: “Mereka lebih memperhatikan dikabulkannya amal daripada amal itu sendiri. Tidakkah kamu mendengar Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, (yang artinya): “Sesungguhnya Alloh hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maa’idah: 27).

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid rohimahulloh berkata, yang artinya: “Sekiranya aku mengetahui bahwa amalku ada yang dikabulkan sekecil biji sawi, hal itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya, karena Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: (yang artinya): “Sesungguhnya Alloh hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maa’idah: 27).

Berkata Malik bin Dinar rohimahulloh: “Takut akan tidak dikabulkannya amal adalah lebih berat dari amal itu sendiri”.

Berkata Abdul Aziz bin Abi Rawwaad rohimahulloh: “Aku menjumpai mereka (salafush shaleh) bersungguh-sungguh dalam beramal, apabila telah mengerjakannya mereka ditimpa kegelisahan apakah amal mereka dikabulkan ataukah tidak?”

Berkata sebagian salaf rohimahumulloh, yang artinya: “Mereka (para salafush shaleh) berdoa kepada Alloh subhanahu wa ta’ala selama enam bulan agar dipertemukan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada Alloh subhanahu wa ta’ala selama enam bulan agar amal mereka dikabulkan.”

Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh keluar pada hari raya Iedul Fitri dan berkata dalam khutbahnya: Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah berpuasa karena Alloh subhanahu wa ta’ala selama tiga puluh hari, dan kamu shalat (tarawih) selama tiga puluh hari pula, dan hari ini kamu keluar untuk meminta kepada Alloh subhanahu wa ta’ala agar dikabulkan amalmu.

Sebagian salaf tampak bersedih ketika hari raya Iedul Fitri, lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah hari kesenangan dan kegembiraan”. Dia menjawab: “Kamu benar, akan tetapi aku adalah seorang hamba yang diperintah oleh Tuhanku untuk beramal karenaNya, dan aku tidak tahu apakah Dia mengabulkan amalku atau tidak?”

DUA SYARAT DITERIMANYA AMAL, AL-IKHLASH DAN AL-MUTABA’AH

Sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

Alloh subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima suatu amalan kecuali ada padanya dua syarat, yaitu: Ikhlash karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata dan mutaba’ atus sunnah atau mengikuti sunnah Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam.


Semoga bermanfaat