Dalam kegiatan belajar Imam Hasan al-Basri bertutur kepada murid2nya. Suatu ketika seorang laki-laki dan anaknya membawa seekor kuda ke pasar. Di tengah jalan, beberapa orang melihat mereka wajah acuh, 'Lihatlah orang-orang itu kasihan ya. Mengapa mereka tidak naik ke atas kuda itu?'
Laki-laki itu mendengar perkataan tersebut. ia lalu meminta anaknya naik ke atas kuda. Seorang perempuan tua melihat mereka, 'Sudah terbalik dunia ini! Sungguh anak tak tahu diri! Ia tenang-tenang di atas kuda sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan.'
Kali ini anak itu turun dari punggung kuda dan ayahnya yang naik. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan dengan gadis muda. 'Mengapa kalian berdua tidak menaiki kuda itu bersama-sama?'
Mereka menuruti nasehat gadis muda itu. Tidak lama kemudian sekelompok orang lewat. 'Binatang malang…, ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna. Kadang-kadang orang memang bisa sangat kejam!'
Sampai di sini, ayah dan anak itu sudah muak. Mereka memutuskan untuk memanggul kuda itu. Melihat kejadian itu orang-orang tertawa terpingkal-pingkal, 'Lihat, manusia aneh memanggul kuda!' sorak mereka.
Begitulah kehidupan haruslah kita sadari bahwa untuk menjalani dalam keseharian bukanlah berarti memuaskan semua pihak. Setiap keputusan yang kita ambil selalu ada orang-orang yang merasa tidak senang & tidak memuaskan. Tentu saja apapun resikonya di dalam hidup ketika keputusan sudah diambil tetap harus di jalankan sebab bila tidak dijalankan berarti kita hanya jalan ditempat.
---
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon (pedoman) dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS Al-Anfal 29).
Wassalam,
Jumat, 25 Juni 2010
Ketika Cinta Berbuah Surga
“Said, Anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Di tanah Kurdistan ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putra; seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Qur’an. Sang raja menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada yang memutuskannya.
Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya, tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang di rasakan anaknya.
Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kaupun bisa mencintainnya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”
Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” Tanya said.
Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yangbhendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok, untuk menjadi temanmu saat makan pagi disini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dana perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syujur, jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktikan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula, dia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu persatu. Sebagian besar dair mereka marah-marah karena hidangannya tidak-keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang meontarkan kata-kata tidak terpuji; memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada yang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat, sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak sebelumnya. Dia menunggu hidangan dengan setia setelah dirasa cukup, aid mengeluarkan sebuah piring berisi telur rebus.
Melihat itu Adil berkata keras, “hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku?”
Adil tidak mau menyentuh tekur itu. Dia pergi dan meninggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tanggannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejatinya.
Hari berikutnya, dia mengundang anak saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi anak raja. Malam harinya, sengaja dia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa pring dengan tiga telur rebus di atasnya.
“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum,” kata said seraya meletakan piring itu di atas meja.
Lalu, Said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar kaya itu langsung melahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Dia kaget.
“Mana telurnya?” Tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belm makan apa-apa.
Said merasa jengkel kepada anak-anak sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tida pantas dijadikan teman sejatinya. Akhirnya, dia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
Akhirnya, said berfikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampong-kampung untuk mencari tena yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak pencari kayu baker. Said mengikutinya diam-diam sampai ank itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukan bahwa dia sangat miskin. Namu, wajah dan sinar matanya memancarkan kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat 2 roka’at. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.
Selesai sholat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, Siapa namamu? Kau tadi sholat apa?
“Namaku Abdullah, tadi aku sholat Dhuha.”
Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak seorang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Mengapa tidak kita coba beberapa waktu dulu? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.”
“Baiklah, kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat, hak dan kewajiban kita sama. Sebagai teman yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajari berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hai, lapang dada, dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tida dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu, dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa di jadikan obat, serta yang beracun.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada disekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
“Pergilah ke ibu kota, berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui disana. Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata said sambil senyum.
Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu itu.
Pagi harinya, anak pencari kayu itu samapi juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu baker itu sudah terbiasa lapar. Bahkan dia pernah tidak melakan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Selama menunggu, dia tidak memikirkan makanan sama sekali. Dia hanya berfikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengarbahwa anak-anak pembesar kerajaan, senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun di hidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu baker itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara itu, Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Kemudian, dengan sengaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasanya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai megupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau…?
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lau, dia membelah telur itu menjadi dua; yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.
Lalu, Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”
Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat sengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah Swt.
Karena kekuatan cinta itu, mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesir dan yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang Adil; ayah Said, meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi Raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan sholat tahajud dan membaca Al-quran bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Cairo -AlexandriA : Egypt
Di tanah Kurdistan ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putra; seorang anak laki-laki yang tampan, cerdas dan pemberani. Saat-saat paling menyenangkan bagi sang raja adalah ketika dia mengajari anaknya itu membaca Al-Qur’an. Sang raja menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Kecil Said akan merasa jengkel jika di tengah-tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada yang memutuskannya.
Terkadang, ketika sedang asyik mendengarkan cerita ayahnya, tiba-tiba pengawal masuk dan memberitahukan bahwa ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja tahu apa yang di rasakan anaknya.
Maka, dia memberi nasihat kepada anaknya, “Said, Anakku, sudah saatnya kau mencari teman sejati yang setia dalam suka dan duka. Seorang teman baik yang akan membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga.”
Said tersentak mendengar perkataan ayahnya.
“Apa maksud Ayah dengan teman yang bisa diajak bercinta untuk surga?” tanyanya dengan nada penasaran.
“Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman denganmu, bukan karena derajatmu, tapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kaupun bisa mencintainnya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga.”
Bagaimana cara mencari teman seperti itu, Ayah?” Tanya said.
Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yangbhendak kau jadikan teman. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapapun yang kau anggap cocok, untuk menjadi temanmu saat makan pagi disini, di rumah kita. Jika sudah sampai di sini, ulurlah dana perlamalah waktu penyajian makanan. Biarkan mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika dia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian mereka perbuat! Itu cara yang paling mudah bagimu. Syujur, jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
Said sangat gembira mendengar nasihat ayahnya. Dia pun mempraktikan cara mencari teman sejati yang cukup aneh itu. Mula-mula, dia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu persatu. Sebagian besar dair mereka marah-marah karena hidangannya tidak-keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa pamit dengan hati kesal, ada yang memukul-mukul meja, ada yang meontarkan kata-kata tidak terpuji; memaki-maki karena terlalu lama menunggu hidangan.
Diantara teman anak raja itu, ada yang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat, sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk makan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak sebelumnya. Dia menunggu hidangan dengan setia setelah dirasa cukup, aid mengeluarkan sebuah piring berisi telur rebus.
Melihat itu Adil berkata keras, “hanya ini sarapan kita? Ini tidak cukup mengisi perutku?”
Adil tidak mau menyentuh tekur itu. Dia pergi dan meninggalkan Said sendirian. Said diam. Dia tidak perlu meminta maaf kepada Adil karena meremehkan makanan yang telah dia rebus dengan kedua tanggannya. Dia mengerti bahwa Adil tidak lapang dada dan tidak cocok untuk menjadi teman sejatinya.
Hari berikutnya, dia mengundang anak saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi anak raja. Malam harinya, sengaja dia tidak makan dan melaparkan perutnya agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui Said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu lama sampai makanan keluar. Akhirnya, Said membawa pring dengan tiga telur rebus di atasnya.
“Ini makanannya, saya ke dalam dulu mengambil air minum,” kata said seraya meletakan piring itu di atas meja.
Lalu, Said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar kaya itu langsung melahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ke meja ternyata tiga telur itu telah lenyap. Dia kaget.
“Mana telurnya?” Tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semuanya?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat hal itu said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan teman setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka dan duka bersama. Sesungguhnya, Said juga belm makan apa-apa.
Said merasa jengkel kepada anak-anak sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tida pantas dijadikan teman sejatinya. Akhirnya, dia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari teman sejati.
Akhirnya, said berfikir untuk mencari teman di luar istana. Kemudian, mulailah Said berpetualang melewati hutan, ladang, sawah, dan kampong-kampung untuk mencari tena yang baik.
Sampai akhirnya, di suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak pencari kayu baker. Said mengikutinya diam-diam sampai ank itu tiba di gubuknya. Rumah dan pakaian anak itu menunjukan bahwa dia sangat miskin. Namu, wajah dan sinar matanya memancarkan kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu, lalu shalat 2 roka’at. Said memerhatikannya dari balik rumpun pepohonan.
Selesai sholat, Said datang dan menyapa, “Kawan, kenalkan namaku Said. Kalau boleh tahu, Siapa namamu? Kau tadi sholat apa?
“Namaku Abdullah, tadi aku sholat Dhuha.”
Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi teman. Kau anak seorang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedangkan aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeda-bedakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Mengapa tidak kita coba beberapa waktu dulu? Kau nanti bisa menilai, apakah aku cocok atau tidak menjadi temanmu.”
“Baiklah, kalau begitu, kita berteman. Akan tetapi, dengan syarat, hak dan kewajiban kita sama. Sebagai teman yang seia-sekata.”
Said menyepakati syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama; pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan berburu kelinci bersama. Anak tukang kayu itu mengajari berenang di sungai, menggunakan panah dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hai, lapang dada, dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di dalam gubuk itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdalah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tida dia dapatkan di dalam istana. Oleh temannya itu, dia diajari untuk mengenali dan membedakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa di jadikan obat, serta yang beracun.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak akan repot jika suatu kali tersesat. Persediaan makanan ada disekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya dia dapat dari madrasah seperti yang ada di ibukota kerajaan. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan, di hutan sekalipun. Hari itu, Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said berpamitan kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya itu.
“Pergilah ke ibu kota, berikan kertas ini kepada tentara yang kau temui disana. Dia akan mengantarkanmu ke rumahku,” kata said sambil senyum.
Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu itu.
Pagi harinya, anak pencari kayu itu samapi juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya, dia ragu untuk masuk istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.
Said menyambutnya dengan hangat dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah hadir di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu baker itu sudah terbiasa lapar. Bahkan dia pernah tidak melakan selama tiga hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Selama menunggu, dia tidak memikirkan makanan sama sekali. Dia hanya berfikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tentram.
Selama ini, dia mendengarbahwa anak-anak pembesar kerajaan, senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun di hidangkan. Said mempersilahkan temannya untuk memulai makan. Anak pencari kayu baker itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara itu, Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Kemudian, dengan sengaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasanya dengan cepat dan melahapnya. Temannya selesai megupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan temannya dengan sebutir telur itu, apakah akan dimakannya sendiri atau…?
Anak miskin itu mengambil pisau yang ada di dekat situ. Lau, dia membelah telur itu menjadi dua; yang satu dia pegang dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak ayal lagi, Said menangis terharu.
Lalu, Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau teman sejatiku! Engkau teman sejatiku! Engkau temanku masuk surga.”
Sejak itu, keduanya berteman dan bersahabat sengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah Swt.
Karena kekuatan cinta itu, mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada para ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesir dan yaman.
Setelah berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang Adil; ayah Said, meninggal dunia. Akhirnya, Said diangkat menjadi Raja untuk menggantikan ayahnya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi teman seperjuangan dan penasihat raja yang tiada duanya.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan sholat tahajud dan membaca Al-quran bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Cairo -AlexandriA : Egypt
AR RAHMAN AR RAHIM (Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang) (Menyingkap Tabir Ilahi)
AR RAHMAN AR RAHIM (Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang)
(Menyingkap Tabir Ilahi)
"Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim, kuambilkan untuknyanama yang berakar dari namaMu, siapa yang menyambungnya (silaturahmi) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmatKu baginya). (H.R. Abu Daud dan At Tirmidzi melalui AbdurRahman bin 'Auf).
Dari Aisyah ra berkata : "Serombongan orang-orang Yahudi minta izin bertetamu kepada Rasulullah saw lalu mereka ucapkan : Assamu'alaikum (racun untukmu)". Jawab Aisyah "Bal'alaikumussaam wal la'nah (bahkan untukmulah racun dan kutukan). Maka bersabda Rasul, "Ya Aisyah! Sesungguhnya Allah senang dengan kelemahlembutan dalam segala urusan". Kata Aisyah "Tidakkah engkau dengar ucapan mereka?". Jawab beliau, "Ya, aku mendengarnya bahkan telah kujawab, wa'alaikum". (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bercerita, "Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa Yahudi. Maka dibukanya sepatu botnya kemudian dicedoknya air dengan sepatunya lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu. Maka Allah mengampuni dosa-dosa wanita itu." (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra berkata Nabi saw bersabda: "Tatkala menciptakan makhluk, Allah ta'ala telah menulis dalam buku yang tersimpan di 'Arasy, "Sesungguhnya rahmat-Ku lebih besar daripada murka-Ku". (HR. Muslim)
Menurut pakar bahasa Ibnu Faris (395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra, Ha, dan Mim, mengandung makna "kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan". Hubungan silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim, adalah peranakan/kandungan yang melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim karena kasih sayang yang terjalin antara anggota-anggotanya.
Rahmat lahir dan nampak di permukaan bila ada sesuatu yang dirahmati, dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh. Di sisi lain siapa yang bermaksud memenuhi kebutuhan pihak lain tetapi secara faktual dia tidak melaksanakannya karena ketidakmampuannya maka boleh jadi dia dinamai rahim, ditinjau dari segi kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan yang menyentuh hatinya tetapi yang demikian ini adalah sesuatu yang tidak sempurna.
Rahmat yang menghiasi diri seseorang, tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorongnya untuk mencurahkan rahmat kepada yang dirahmati. Rahmat dalam pengertian demikian adalah rahmat makhluk, Allah tidak demikian. Tetapi tulis Al Ghazaly; jangan Anda duga bahwa hal ini mengurangi makna rahmat Tuhan bahkan disanalah kesempurnaannya. Rahmat yang tidak dibarengi oleh rasa pedih –sebagaimana rahmat Allah- tidak berkurang karena kesempurnaan rahmat yang ada di dalam, ditentukan oleh kesempurnaan buah/hasil rahmat itu saat dianugerahkan kepada yang dirahmati dan betapapun Anda memenuhi secara sempurna kebutuhan yang dirahmati, yang bersangkutan ini tidak merasakan sedikitpun apa yang dialami oleh yang memberinya rahmat. Kepedihanyang dialami oleh sipemberi merupakan kelemahan makhluk." Adapaun yang menunjukkan kesempurnaan rahmat Ilahi walaupun Yang Maha Pengasih itu tidak merasakan kepedihan maka menurut Imam AlGhazaly adalah karena makhluk yang mencurahkan rahmat saat merasakan kepedihan itu, hampir-hampir saja dapat dikatakan bahwa saat ia mencurahkannya ia sedang berupaya untuk menghilangkan rasa pedih itu dari dirinya, dan ini berarti bahwa pemberiannya tidak luput dari kepentingan dirinya. Hal ini mengurangi kesempurnaan makna rahmat, yang seharusnya tidak disertai dengan kepentingan diri, tidak pula untuk menghilangkan rasa pedih tetapi semata-mata demi kepentingan yang dirahmati. Demikianlah rahmat Allah swt.
Pemilik rahmat yang sempurna adalah yang menghendaki dan melimpahkan kebajika bagi yang butuh serta memelihara mereka sedang Pemilik Rahmat yang menyeluruh adalah yang mencurahkan rahmat kepada yang wajar maupun tidak wajar menerimanya.
Rahmat Allah bersifat sempurna karena setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, seketika itu juga rahmat tercurah. Rahmat-Nya pun bersifat menyeluruh karena ia mencakup yang berhak maupun yang tidak berhak serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung atau dinilai.
Apa perbedaan antara Rahman dan Rahim? Banyak ragam jawaban terhadap pertanyaan ini. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tapi sifatnya sementara dan yang dicurahkanNya kepada semua makhluk. Kata ini dalam pandangan Abduh adalah kata yang menunjuk sifat fi'il/perbuatan Tuhan. Dia Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna tetapi bersifat sementara tidak langgeng. Ini antara lain dapat berarti bahwa Allah mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh tetapi tidak langgeng terus menerus. Rahmat menyeluruh tersebut menyeluruh tersebut menyentuh semua manusia –mukmin atau kafir- bahkan menyentuh seluruh makhluk di alam raya, tetapi karena ketidaklanggengannya maka ia hanya berupa rahmat di dunia saja. Bukankah rahmat di dunia menyentuh semua makhluk tetapi dunia itu sendiri, begitu juga rahmat yang diraih di dunia tidak bersifat abadi? Adapun kata Rahim yang patronnya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan maka ia menunjuk kepada sifat zat Allah, atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmatnya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat wujud di akhirat kelak, disisi lain rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertaqwa :
"Katakanlah : "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah) rezki yang baik?" Katakanlah, "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui " (QS. Al A'raf 7:32)
Karena itu rahmat yang dikandung oleh kata Rahiim adalah rahamt ukhrawi yang akan diraih oleh yang taat dan bertaqwa kepadaNya.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata Rahman menunjuk kepada Allah dari sudut pandang bahwa Dia mencurahkan rahmat secara faktual sedang rahmat yang disandangNya dan yang melekat pada diriNya menjadikan Dia berhak menyandang sifat Rahim sehingga dengan gabungan kedua kata itu tergambarlah di dalam benak bahwa Allah Rahman (mencurahkan rahmat kepada seluruh makhlukNya) karena Dia Rahim; Dia adalah wujud / zat Yang memiliki sifat rahmat.
Memang sekali-sekali boleh jadi seorang yang bersifat kikir, mengulurkan tangan bantuan kepada orang lain. Di sini bantuan yang diberikannya itu tidak mengubah kepribadiannya yang kikir; bantuan yang diberikannya itu tidak bersumber dari sifat pribadinya yang sesungguhnya,.. berbeda dengan seorang pemurah ketika mengulurkan bantuan. Dengan kata Ar Rahman tergambar bahwa Allah mencurahkan rahmatNya dan dengan Ar Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.
Rahmat Allah tidak terhingga bahkan dinyatakan :
"Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu" (QS. Al A'raaf 7:156) dan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, "Sesungguhnya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku" (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Ar Rahman dan Ar Rahim seperti dikemukakan di atas berakar dari kata rahim yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Apabila disebutkan kata rahim maka yang terlintas di dalam benak adalah ibu yang memiliki anak,.. pikiran ketika itu akan melayang kepada kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan diduga bahwa sifat rahmat Tuhan sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang ibu. Bukankah kita harus meyakini bahwa Allah adalah wujud yang tidak memiliki persamaan dalam zat, sifat dan perbuatanNya dengan apapun dalam kenyataan hidup atau dalam khayalan?
Rasulullah memberikan ilustrasi menyangkut besarnya rahmat Allah sebagai dituturkan oleh Abu Hurairah katanya:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : 'Allah swt menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan disisiNya sembilan puluh sembilan dan diturunkanNya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkut kakinya dari anaknya terdorong oleh rahmat kasih sayang, kuatir jangan sampai menyakitinya. (HR. Muslim).
Kini kita bertanya, apakah buah yang dihasilkan oleh ucapan yang lahir dari lubuk hati? Menurut Al Ghazaly buah yang dihasilkan oleh rahman pada aktivitas seseorang adalah bahwa "ia akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Allah. Dengan memberinya nasehat secara lemah lembut –tidak dengan kekerasan, memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang- bukan dengan gangguan. Memandang setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia tidak menyisihkan sedikit upayapun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya sebagai pengejawantahaan dari rahmatnya terhadap si durhaka jangan sampai ia mendapatkan murkaNya dan kejauhan dari sisiNya".
Sedang buah rahim menurut Al Ghazaly adalah "tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali berupaya memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang fakir di sekelilingnya atau dinegerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kekafirannya dengan harta, kedudukan atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhasil ia lakukan, maka hendaklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitaannya. Itu semua, sebagai tanda kasih sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengan yang dikasihinya itu dalam kesulitan dan kebutuhan".
Wassalam
Cairo-AlexandriA : Egypt
(Menyingkap Tabir Ilahi)
"Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim, kuambilkan untuknyanama yang berakar dari namaMu, siapa yang menyambungnya (silaturahmi) akan Ku-sambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmatKu baginya). (H.R. Abu Daud dan At Tirmidzi melalui AbdurRahman bin 'Auf).
Dari Aisyah ra berkata : "Serombongan orang-orang Yahudi minta izin bertetamu kepada Rasulullah saw lalu mereka ucapkan : Assamu'alaikum (racun untukmu)". Jawab Aisyah "Bal'alaikumussaam wal la'nah (bahkan untukmulah racun dan kutukan). Maka bersabda Rasul, "Ya Aisyah! Sesungguhnya Allah senang dengan kelemahlembutan dalam segala urusan". Kata Aisyah "Tidakkah engkau dengar ucapan mereka?". Jawab beliau, "Ya, aku mendengarnya bahkan telah kujawab, wa'alaikum". (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah bercerita, "Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa Yahudi. Maka dibukanya sepatu botnya kemudian dicedoknya air dengan sepatunya lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu. Maka Allah mengampuni dosa-dosa wanita itu." (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah ra berkata Nabi saw bersabda: "Tatkala menciptakan makhluk, Allah ta'ala telah menulis dalam buku yang tersimpan di 'Arasy, "Sesungguhnya rahmat-Ku lebih besar daripada murka-Ku". (HR. Muslim)
Menurut pakar bahasa Ibnu Faris (395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra, Ha, dan Mim, mengandung makna "kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan". Hubungan silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim, adalah peranakan/kandungan yang melahirkan kasih sayang. Kerabat juga dinamai rahim karena kasih sayang yang terjalin antara anggota-anggotanya.
Rahmat lahir dan nampak di permukaan bila ada sesuatu yang dirahmati, dan setiap yang dirahmati pastilah sesuatu yang butuh. Di sisi lain siapa yang bermaksud memenuhi kebutuhan pihak lain tetapi secara faktual dia tidak melaksanakannya karena ketidakmampuannya maka boleh jadi dia dinamai rahim, ditinjau dari segi kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan yang menyentuh hatinya tetapi yang demikian ini adalah sesuatu yang tidak sempurna.
Rahmat yang menghiasi diri seseorang, tidak luput dari rasa pedih yang dialami oleh jiwa pemiliknya. Rasa itulah yang mendorongnya untuk mencurahkan rahmat kepada yang dirahmati. Rahmat dalam pengertian demikian adalah rahmat makhluk, Allah tidak demikian. Tetapi tulis Al Ghazaly; jangan Anda duga bahwa hal ini mengurangi makna rahmat Tuhan bahkan disanalah kesempurnaannya. Rahmat yang tidak dibarengi oleh rasa pedih –sebagaimana rahmat Allah- tidak berkurang karena kesempurnaan rahmat yang ada di dalam, ditentukan oleh kesempurnaan buah/hasil rahmat itu saat dianugerahkan kepada yang dirahmati dan betapapun Anda memenuhi secara sempurna kebutuhan yang dirahmati, yang bersangkutan ini tidak merasakan sedikitpun apa yang dialami oleh yang memberinya rahmat. Kepedihanyang dialami oleh sipemberi merupakan kelemahan makhluk." Adapaun yang menunjukkan kesempurnaan rahmat Ilahi walaupun Yang Maha Pengasih itu tidak merasakan kepedihan maka menurut Imam AlGhazaly adalah karena makhluk yang mencurahkan rahmat saat merasakan kepedihan itu, hampir-hampir saja dapat dikatakan bahwa saat ia mencurahkannya ia sedang berupaya untuk menghilangkan rasa pedih itu dari dirinya, dan ini berarti bahwa pemberiannya tidak luput dari kepentingan dirinya. Hal ini mengurangi kesempurnaan makna rahmat, yang seharusnya tidak disertai dengan kepentingan diri, tidak pula untuk menghilangkan rasa pedih tetapi semata-mata demi kepentingan yang dirahmati. Demikianlah rahmat Allah swt.
Pemilik rahmat yang sempurna adalah yang menghendaki dan melimpahkan kebajika bagi yang butuh serta memelihara mereka sedang Pemilik Rahmat yang menyeluruh adalah yang mencurahkan rahmat kepada yang wajar maupun tidak wajar menerimanya.
Rahmat Allah bersifat sempurna karena setiap Dia menghendaki tercurahnya rahmat, seketika itu juga rahmat tercurah. Rahmat-Nya pun bersifat menyeluruh karena ia mencakup yang berhak maupun yang tidak berhak serta mencakup pula aneka macam rahmat yang tidak dapat dihitung atau dinilai.
Apa perbedaan antara Rahman dan Rahim? Banyak ragam jawaban terhadap pertanyaan ini. Syekh Muhammad Abduh berpendapat bahwa Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna tapi sifatnya sementara dan yang dicurahkanNya kepada semua makhluk. Kata ini dalam pandangan Abduh adalah kata yang menunjuk sifat fi'il/perbuatan Tuhan. Dia Rahman berarti Dia mencurahkan rahmat yang sempurna tetapi bersifat sementara tidak langgeng. Ini antara lain dapat berarti bahwa Allah mencurahkan rahmat yang sempurna dan menyeluruh tetapi tidak langgeng terus menerus. Rahmat menyeluruh tersebut menyeluruh tersebut menyentuh semua manusia –mukmin atau kafir- bahkan menyentuh seluruh makhluk di alam raya, tetapi karena ketidaklanggengannya maka ia hanya berupa rahmat di dunia saja. Bukankah rahmat di dunia menyentuh semua makhluk tetapi dunia itu sendiri, begitu juga rahmat yang diraih di dunia tidak bersifat abadi? Adapun kata Rahim yang patronnya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan maka ia menunjuk kepada sifat zat Allah, atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmatnya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat wujud di akhirat kelak, disisi lain rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang taat dan bertaqwa :
"Katakanlah : "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah) rezki yang baik?" Katakanlah, "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui " (QS. Al A'raf 7:32)
Karena itu rahmat yang dikandung oleh kata Rahiim adalah rahamt ukhrawi yang akan diraih oleh yang taat dan bertaqwa kepadaNya.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata Rahman menunjuk kepada Allah dari sudut pandang bahwa Dia mencurahkan rahmat secara faktual sedang rahmat yang disandangNya dan yang melekat pada diriNya menjadikan Dia berhak menyandang sifat Rahim sehingga dengan gabungan kedua kata itu tergambarlah di dalam benak bahwa Allah Rahman (mencurahkan rahmat kepada seluruh makhlukNya) karena Dia Rahim; Dia adalah wujud / zat Yang memiliki sifat rahmat.
Memang sekali-sekali boleh jadi seorang yang bersifat kikir, mengulurkan tangan bantuan kepada orang lain. Di sini bantuan yang diberikannya itu tidak mengubah kepribadiannya yang kikir; bantuan yang diberikannya itu tidak bersumber dari sifat pribadinya yang sesungguhnya,.. berbeda dengan seorang pemurah ketika mengulurkan bantuan. Dengan kata Ar Rahman tergambar bahwa Allah mencurahkan rahmatNya dan dengan Ar Rahim dinyatakan bahwa Dia memiliki sifat rahmat yang melekat pada diriNya.
Rahmat Allah tidak terhingga bahkan dinyatakan :
"Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu" (QS. Al A'raaf 7:156) dan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, "Sesungguhnya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku" (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Ar Rahman dan Ar Rahim seperti dikemukakan di atas berakar dari kata rahim yang juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Apabila disebutkan kata rahim maka yang terlintas di dalam benak adalah ibu yang memiliki anak,.. pikiran ketika itu akan melayang kepada kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan diduga bahwa sifat rahmat Tuhan sepadan dengan sifat rahmat ibu, betapapun besarnya kasih sayang ibu. Bukankah kita harus meyakini bahwa Allah adalah wujud yang tidak memiliki persamaan dalam zat, sifat dan perbuatanNya dengan apapun dalam kenyataan hidup atau dalam khayalan?
Rasulullah memberikan ilustrasi menyangkut besarnya rahmat Allah sebagai dituturkan oleh Abu Hurairah katanya:
Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : 'Allah swt menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan disisiNya sembilan puluh sembilan dan diturunkanNya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkut kakinya dari anaknya terdorong oleh rahmat kasih sayang, kuatir jangan sampai menyakitinya. (HR. Muslim).
Kini kita bertanya, apakah buah yang dihasilkan oleh ucapan yang lahir dari lubuk hati? Menurut Al Ghazaly buah yang dihasilkan oleh rahman pada aktivitas seseorang adalah bahwa "ia akan merasakan rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah yang lengah, dan ini mengantar yang bersangkutan untuk mengalihkan mereka dari jalan kelengahan menuju Allah. Dengan memberinya nasehat secara lemah lembut –tidak dengan kekerasan, memandang orang-orang berdosa dengan pandangan kasih sayang- bukan dengan gangguan. Memandang setiap kedurhakaan yang terjadi di alam raya, bagai kedurhakaan terhadap dirinya, sehingga dia tidak menyisihkan sedikit upayapun untuk menghilangkannya sesuai kemampuannya sebagai pengejawantahaan dari rahmatnya terhadap si durhaka jangan sampai ia mendapatkan murkaNya dan kejauhan dari sisiNya".
Sedang buah rahim menurut Al Ghazaly adalah "tidak membiarkan seorang yang butuh kecuali berupaya memenuhi kebutuhannya, tidak juga membiarkan seorang fakir di sekelilingnya atau dinegerinya kecuali dia berusaha untuk membantu dan menampik kekafirannya dengan harta, kedudukan atau berusaha melalui orang ketiga sehingga terpenuhi kebutuhannya. Kalau semua itu tidak berhasil ia lakukan, maka hendaklah ia membantunya dengan doa serta menampakkan rasa kesedihan dan kepedihan atas penderitaannya. Itu semua, sebagai tanda kasih sayang dan dengan demikian ia bagaikan serupa dengan yang dikasihinya itu dalam kesulitan dan kebutuhan".
Wassalam
Cairo-AlexandriA : Egypt
Memafkan Yuuuk ....
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
Walaupun mudah diucapkan, memaafkan bukanlah perbuatan yang mudah dilakukan. Ketika seseorang telah atau akan dicelakai, maka yang tertanam biasanya perasaan dendam dan ingin membalas. Perasaan seperti itu adalah wajar dalam diri orang biasa. Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa.
Memaafkan bukan berarti membiarkan melakukan kesalahan yang sama secara terus menerus karena bila ada orang melakukan kesalahan ada kecenderungan akan melakukan kesalahan itu lagi maka selain kelembutan diperlukan sikap tegas untuk mengingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Dan bagi yang mempunyai keluhuran akhlak, mereka bukan hanya mampu memaafkan kesalahan orang lain, melainkan sekaligus membalas kesalahan tersebut dengan kebaikan yang tak pernah terbayangkan oleh sang pelaku. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berjanji hal tersebut justru dapat mempererat tali silaturahim dan membuat antara yang berselisih saling memikirkan seolah-olah mereka adalah sahabat yang sangat setia.
Allah SUbhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
Ada beberapa cara agar kita bisa menjadi pemaaf. Pertama, memperbanyak silaturahim kepada tetangga, sanak kerabat, dan kawan-kawan. Sikap ini akan membuka hati terhadap segala karakter orang, sehingga kita pun tidak mudah marah atau tersinggung atas sikap orang lain.
Dengan demikian hati agar tetap jernih, kesehatan dan kebugaran tubuh kita menjadi terjaga tidak membiarkan kebencian dan kemarahan terpendam di dalam diri kita. Memaafkan merupakan pembersih dari segala kekotoran di dalam hati kita, sebuah perpaduan antara kelembutan dan ketegasan.
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])
demikian pula dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa hamba-hamba Alllah yang pemaaf adalah hamba yang mempunyai sifat yang mulia dan yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43)
maka dari hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, " menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Memaafkan bukan berarti membiarkan diri kita terus menerus disakiti adalah upaya menjaga harmoni, keseimbangan dan kesetaraan inilah yang menjadikan hidup kita penuh kebahagiaan dalam rangka saling menghormati dan saling menyayangi. Kesetaraanlah membuat hati kita lapang dan bersih dalam kemuliaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dalam hadist lain disebutkan : ” Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya dan ditaburi rahmat-Nya serta dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) .” (HR. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi)
Orang yang mampu menahan marah dan memafkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
orang yang mempunyai sifat memafkan , berarti orang-orang yang bertakwa .
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa.. ” (QS. Al Baqarah [2] ; 237)
mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita, sejauh mana kita bisa berlapang dada dan bisa tulus dalam memaafkan kesalahan ? Dan sejauh mana kita berani mengakui kesalahan kita dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan ? Bila ternyata kita belum bisa memaafkan dengan tulus kesalahan orang lain dan mengikhlaskannya, maka mulailah dari sekarang kita terapkan sifat kita untuk saling memafkan dalam kehidupan kita .Hindari sikap egoisme dalam diri, karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya, mau mengakui kesalahannya, serta selalu mementingkan kemaslahatan ummat.
Semoga Bermanfaat
Wassalam,
Cairo-AlexandriA : Egypt , 2-Mei -2008
Walaupun mudah diucapkan, memaafkan bukanlah perbuatan yang mudah dilakukan. Ketika seseorang telah atau akan dicelakai, maka yang tertanam biasanya perasaan dendam dan ingin membalas. Perasaan seperti itu adalah wajar dalam diri orang biasa. Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa.
Memaafkan bukan berarti membiarkan melakukan kesalahan yang sama secara terus menerus karena bila ada orang melakukan kesalahan ada kecenderungan akan melakukan kesalahan itu lagi maka selain kelembutan diperlukan sikap tegas untuk mengingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Dan bagi yang mempunyai keluhuran akhlak, mereka bukan hanya mampu memaafkan kesalahan orang lain, melainkan sekaligus membalas kesalahan tersebut dengan kebaikan yang tak pernah terbayangkan oleh sang pelaku. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berjanji hal tersebut justru dapat mempererat tali silaturahim dan membuat antara yang berselisih saling memikirkan seolah-olah mereka adalah sahabat yang sangat setia.
Allah SUbhanahu Wa Ta'ala berfirman : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
Ada beberapa cara agar kita bisa menjadi pemaaf. Pertama, memperbanyak silaturahim kepada tetangga, sanak kerabat, dan kawan-kawan. Sikap ini akan membuka hati terhadap segala karakter orang, sehingga kita pun tidak mudah marah atau tersinggung atas sikap orang lain.
Dengan demikian hati agar tetap jernih, kesehatan dan kebugaran tubuh kita menjadi terjaga tidak membiarkan kebencian dan kemarahan terpendam di dalam diri kita. Memaafkan merupakan pembersih dari segala kekotoran di dalam hati kita, sebuah perpaduan antara kelembutan dan ketegasan.
“Harta tidak akan berkurang karena sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [8/194])
demikian pula dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa hamba-hamba Alllah yang pemaaf adalah hamba yang mempunyai sifat yang mulia dan yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43)
maka dari hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, " menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Memaafkan bukan berarti membiarkan diri kita terus menerus disakiti adalah upaya menjaga harmoni, keseimbangan dan kesetaraan inilah yang menjadikan hidup kita penuh kebahagiaan dalam rangka saling menghormati dan saling menyayangi. Kesetaraanlah membuat hati kita lapang dan bersih dalam kemuliaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dalam hadist lain disebutkan : ” Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya dan ditaburi rahmat-Nya serta dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) .” (HR. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi)
Orang yang mampu menahan marah dan memafkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam disebut sebagai orang yang kuat. Beliau bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan dirinya ketika marah (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud)
orang yang mempunyai sifat memafkan , berarti orang-orang yang bertakwa .
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa.. ” (QS. Al Baqarah [2] ; 237)
mari kita tanyakan dengan jujur pada diri kita, sejauh mana kita bisa berlapang dada dan bisa tulus dalam memaafkan kesalahan ? Dan sejauh mana kita berani mengakui kesalahan kita dan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita lakukan ? Bila ternyata kita belum bisa memaafkan dengan tulus kesalahan orang lain dan mengikhlaskannya, maka mulailah dari sekarang kita terapkan sifat kita untuk saling memafkan dalam kehidupan kita .Hindari sikap egoisme dalam diri, karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya, mau mengakui kesalahannya, serta selalu mementingkan kemaslahatan ummat.
Semoga Bermanfaat
Wassalam,
Cairo-AlexandriA : Egypt , 2-Mei -2008
Berdoa di Waktu sepertiga Malam ..
Bila malam tiba saat nya kodok di kampung-Ku bertasbih dan saatnya seorang hamba untuk melaksanakan tahajud. Sholat Tahajud adalah sholat sunah yang memiliki keutamaan terbesar setelah sholat fardhu. Siapa saja yang memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan dikabulkanNya. Sholat tahajud merupakan sarana saat nya kita mengadu kepada sang khaliq . Ingatlah bahwa Allah selalu mendengar doa hamba-Nya di waktru sepertiga malam . Sepatutnya kita memohon petunjuk dengan Allah.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala sangatlah dekat dengan hamba-hamba Nya .
Allah Ta?ala berfirman pula:Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo?a apabila ia memohon kepadaKu.? (QS. Al-Baqarah: 186)
SYAIR
Janganlah kamu meminta kebutuhanmu pada manusia
Mintalah hanya kepada Dzat Yang pintu-pintunya tak pernah tertutup
Allah akan murka jika kamu tidak bermohon kepadanya
Sedang manusia akan murka jika kamu bermohon kepadanya
sudah seharusnya kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Selain itu kita harus berikhtiar dengan berusaha memperbaiki kehidupan kita dan memohon kepada Allah dengan melalui sholat tahajud akan semakin mendekatkan diri kita dengan Sang khaliq . Dengan penyerahan diri dan keikhlasan dalam menjalani hidup merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba yang dicintaiNya.
Dan juga, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala maka rasa cintanya tersebut merupakan sebesar-besar hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Karena sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha Mensyukuri, Dia membalas orang yang mendekatkan diri kepada-Nya lebih besar -dengan balasan yang belipat ganda- daripada yang dilakukan orang tersebut. Dan termasuk syukur Allah تعالى adalah : mempertemukannya dengan orang yang dicintainya, walaupun amalan orang yang mencintai itu sedikit.
Allah berfirman:“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul, maka mereka bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka dari para Nabi, para orang yang Shiddiq, para Syuhada’ dan orang-orang shalih, dan mereka adalah sebaik-baik teman.” [QS an-Nisa : 69]
Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memuji bagi hamba-hambaNya yang memohon kepadaNya agar diberikan jalan hidup yang baik . Mohonlah apa yang menjadi niat dan keinginan kita. Sholat Tahajud menjadi sebuah sarana yang efektif karena mengandung banyak keutamaan dihadapan Allah. Termasuk memohon agar diberikan kemudahan dalam jalani hidup yang baik dan keluarga yang menenteramkan hati kita.
'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai menyenangkan hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqan : 74).
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusan pokokku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang ke sanalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini tambahan bagiku dalam setiap kebaikan dan (jadikanlah) kematian itu istirahat bagiku dari setiap keburukan." (HR. Muslim)
Ya Allah, aku mengharapkan rahmatMu, maka janganlah Kau pasrahkan (urusan)ku pada diriku sendiri walau sekejap mata. Dan perbaikilah urusanku semuanya. Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Engkau." (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)
Wassalam,
Cairo-AlexandriA : Egypt 2-Mei -2008
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala sangatlah dekat dengan hamba-hamba Nya .
Allah Ta?ala berfirman pula:Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo?a apabila ia memohon kepadaKu.? (QS. Al-Baqarah: 186)
SYAIR
Janganlah kamu meminta kebutuhanmu pada manusia
Mintalah hanya kepada Dzat Yang pintu-pintunya tak pernah tertutup
Allah akan murka jika kamu tidak bermohon kepadanya
Sedang manusia akan murka jika kamu bermohon kepadanya
sudah seharusnya kita memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Selain itu kita harus berikhtiar dengan berusaha memperbaiki kehidupan kita dan memohon kepada Allah dengan melalui sholat tahajud akan semakin mendekatkan diri kita dengan Sang khaliq . Dengan penyerahan diri dan keikhlasan dalam menjalani hidup merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh hamba-hamba yang dicintaiNya.
Dan juga, barangsiapa yang mencintai Allah Ta’ala maka rasa cintanya tersebut merupakan sebesar-besar hal yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Karena sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha Mensyukuri, Dia membalas orang yang mendekatkan diri kepada-Nya lebih besar -dengan balasan yang belipat ganda- daripada yang dilakukan orang tersebut. Dan termasuk syukur Allah تعالى adalah : mempertemukannya dengan orang yang dicintainya, walaupun amalan orang yang mencintai itu sedikit.
Allah berfirman:“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul, maka mereka bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka dari para Nabi, para orang yang Shiddiq, para Syuhada’ dan orang-orang shalih, dan mereka adalah sebaik-baik teman.” [QS an-Nisa : 69]
Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memuji bagi hamba-hambaNya yang memohon kepadaNya agar diberikan jalan hidup yang baik . Mohonlah apa yang menjadi niat dan keinginan kita. Sholat Tahajud menjadi sebuah sarana yang efektif karena mengandung banyak keutamaan dihadapan Allah. Termasuk memohon agar diberikan kemudahan dalam jalani hidup yang baik dan keluarga yang menenteramkan hati kita.
'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai menyenangkan hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqan : 74).
Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan urusan pokokku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang ke sanalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini tambahan bagiku dalam setiap kebaikan dan (jadikanlah) kematian itu istirahat bagiku dari setiap keburukan." (HR. Muslim)
Ya Allah, aku mengharapkan rahmatMu, maka janganlah Kau pasrahkan (urusan)ku pada diriku sendiri walau sekejap mata. Dan perbaikilah urusanku semuanya. Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Engkau." (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)
Wassalam,
Cairo-AlexandriA : Egypt 2-Mei -2008
Surat Terbuka dari Hati yang Penuh Cinta
Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,…
Kepada :
Saudariku yang ku cintai karena Allah
Tanpa bermaksud menggurui aku menulis surat ini,…
Berharap sesak di dada akan segera berkurang jika
Surat ini telah sampai padamu,…
Sebagai saudari yang mengaku mencintaimu karena Allah
Aku punya kewajiban untuk menjagamu… ,menolongmu dan menasehatimu
Dan biar surat ini jadi ingatan untukku dan pula untukmu,..
Surat ini kutujukan kepada engkau saudariku….
Saudari yang saat ini telah memiliki azzam yang kuat untuk meninggalkan cinta semu pada laki – laki yang belum jelas akan menjadi suami mu atau tidak,….
Cinta yang pernah membuat mu buta,… galau,… bahkan tak mengenal dirimu…
Cinta yang membuat mu meneteskan air mata yang tak tertahankan,….
Membuat mu melamun dan mengganggu warasnya pikiranmu,….
Cinta yang membuat hatimu rapuh,..
Cinta yang hanya menyakitimu,…
Cinta yang menjadikan dirimu kehilangan cita – cita bahkan mungkin kehilangan harga diri,…..
Sekarang katakan,..Selamat tinggal pada cinta bodoh itu,…
Kini dirimu adalah mawar yang indah dengan duri – durinya,….
Duri – duri yang siap menusuk jika ada yang hendak memetik mu tanpa izin empunya…..
Saudariku,…..
Engkau telah menyadari cinta yang hadir padamu itu hanyalah sebuah cinta semu,…
Maka janganlah engkau biarkan cinta semu yang lain mengusikmu.,….
Engkau,...Saudariku,…
Pernah jatuh kedalam satu jurang jika bukan karena Allah mencintaimu …
mungkin engkau tak akan pernah menyadari bahwa dirimu
telah terjerembab dalam kemaksiatan yang nyata……
Engkau tau,… engkau bukan satu – satunya wanita korban laki – laki yang jahil itu,…
Begitu banyak saudari ku yang lain juga mengalami hal yang sama,..
Berjuta – juta dari mereka pernah berada dalam titik nadir sekalipun
Tapi mereka cerdas dan kini mereka sangat utama dalam perubahan…..
Ku ingin engkau pun seperti mereka…
Ketahuilah tak ada manusia tanpa cela,… karena kita bukan orang – orang yang ma’sum…
Tapi setiap cela yang pernah kita punya,. Kini tutupilah dengan perubahan indahnya ahlakmu,….
Namun jika engkau tetap seperti dahulu,… maka ku katakan…
Kerugian terbesar lah buat dirimu……
Jangan engkau naifkan,… Cinta yang suci dihatimu,…
Cinta yang suci itu hanya diperuntukkan buat cinta yang suci pula,..
Bukan pada laki – laki hidung belang yang hanya melelahkanmu,…
Jangan engkau berkata,.. “Aku tak bisa hidup tanpa dia kekasihku….”
Duhai saudariku,.. tidakkah engkau sadar bahwa engkau sedang menduakan Allah yang telah menghidupkan mu dan kelak mematikanmu…??
Siapa dia yang mampu membuatmu tak bisa hidup????????????
Bahkan engkau tau,… laki – laki yang engkau tangisi itu…
Yang dengan berani nya kau katakan tak bisa hidup tanpanya…..
Jika saja Allah mencabut nyawanya,… sedetik pun ia tak bisa menolak,….
Lantas bagaimana mungkin engkau tak bisa hidup tanpanya……??????????????
Aku mengerti jika engkau butuh waktu untuk memulihkan perasaanmu
yang sedang di mabuk cinta semu itu…..
Tapi ketahuilah,…engkau hanya membutuhkan waktu 1 bulan
untuk memperbaiki hatimu bahkan bisa kurang dari 1 bulan,….
Asal engkau punya niat dan tekad yang kuat,….
Niat berubah untuk mengharapkan ridho Allah,…
Karena jika tak ada niat dan tekad yang kuat,…
Bertahun – tahun pun engkau akan berada dalam jeratan yang sama…..
Semua menjadi sia –sia….
Saudariku,…
Jangan pula engkau katakan,… bahwa dialah cinta terakhirmu….
Saudariku,. Engkau kah yang berhak mengatur cinta pertama dan terakhir???
Bukan rasa cinta itu anugerah yang Indah dari Allah….
Dan cukup Allah lah saja yang tau siapa cinta terakhirmu……
Jangan dahului ketentuan Allah untukmu,….
Cukup saudariku,…
Telah cukup dosa yang kita perbuat,….
Jika bukan karena Allah menaruh kasihan pada kita,…
Dan jika saja tiap dosa yang kita buat itu memberikan bekas luka di tubuh kita,..
Maka sungguh saat ini,..tubuh ini akan berbau busuk karena dosa – dosa itu,…
Tapi sungguh Allah itu Maha Pemurah,…
Maha Penyayang,,….
Hingga kini diri kita mulus tanpa luka….
Duhai saudariku,.. ku sudahi dulu surat ku ini,..
Insya Allah surat ku yang lain akan kuberikan jika engkau telah benar – benar meninggalkan cinta semu itu….
Saudarimu,.. di bumi Allah………………
Cairo-AlexandriA : Egypt
Kepada :
Saudariku yang ku cintai karena Allah
Tanpa bermaksud menggurui aku menulis surat ini,…
Berharap sesak di dada akan segera berkurang jika
Surat ini telah sampai padamu,…
Sebagai saudari yang mengaku mencintaimu karena Allah
Aku punya kewajiban untuk menjagamu… ,menolongmu dan menasehatimu
Dan biar surat ini jadi ingatan untukku dan pula untukmu,..
Surat ini kutujukan kepada engkau saudariku….
Saudari yang saat ini telah memiliki azzam yang kuat untuk meninggalkan cinta semu pada laki – laki yang belum jelas akan menjadi suami mu atau tidak,….
Cinta yang pernah membuat mu buta,… galau,… bahkan tak mengenal dirimu…
Cinta yang membuat mu meneteskan air mata yang tak tertahankan,….
Membuat mu melamun dan mengganggu warasnya pikiranmu,….
Cinta yang membuat hatimu rapuh,..
Cinta yang hanya menyakitimu,…
Cinta yang menjadikan dirimu kehilangan cita – cita bahkan mungkin kehilangan harga diri,…..
Sekarang katakan,..Selamat tinggal pada cinta bodoh itu,…
Kini dirimu adalah mawar yang indah dengan duri – durinya,….
Duri – duri yang siap menusuk jika ada yang hendak memetik mu tanpa izin empunya…..
Saudariku,…..
Engkau telah menyadari cinta yang hadir padamu itu hanyalah sebuah cinta semu,…
Maka janganlah engkau biarkan cinta semu yang lain mengusikmu.,….
Engkau,...Saudariku,…
Pernah jatuh kedalam satu jurang jika bukan karena Allah mencintaimu …
mungkin engkau tak akan pernah menyadari bahwa dirimu
telah terjerembab dalam kemaksiatan yang nyata……
Engkau tau,… engkau bukan satu – satunya wanita korban laki – laki yang jahil itu,…
Begitu banyak saudari ku yang lain juga mengalami hal yang sama,..
Berjuta – juta dari mereka pernah berada dalam titik nadir sekalipun
Tapi mereka cerdas dan kini mereka sangat utama dalam perubahan…..
Ku ingin engkau pun seperti mereka…
Ketahuilah tak ada manusia tanpa cela,… karena kita bukan orang – orang yang ma’sum…
Tapi setiap cela yang pernah kita punya,. Kini tutupilah dengan perubahan indahnya ahlakmu,….
Namun jika engkau tetap seperti dahulu,… maka ku katakan…
Kerugian terbesar lah buat dirimu……
Jangan engkau naifkan,… Cinta yang suci dihatimu,…
Cinta yang suci itu hanya diperuntukkan buat cinta yang suci pula,..
Bukan pada laki – laki hidung belang yang hanya melelahkanmu,…
Jangan engkau berkata,.. “Aku tak bisa hidup tanpa dia kekasihku….”
Duhai saudariku,.. tidakkah engkau sadar bahwa engkau sedang menduakan Allah yang telah menghidupkan mu dan kelak mematikanmu…??
Siapa dia yang mampu membuatmu tak bisa hidup????????????
Bahkan engkau tau,… laki – laki yang engkau tangisi itu…
Yang dengan berani nya kau katakan tak bisa hidup tanpanya…..
Jika saja Allah mencabut nyawanya,… sedetik pun ia tak bisa menolak,….
Lantas bagaimana mungkin engkau tak bisa hidup tanpanya……??????????????
Aku mengerti jika engkau butuh waktu untuk memulihkan perasaanmu
yang sedang di mabuk cinta semu itu…..
Tapi ketahuilah,…engkau hanya membutuhkan waktu 1 bulan
untuk memperbaiki hatimu bahkan bisa kurang dari 1 bulan,….
Asal engkau punya niat dan tekad yang kuat,….
Niat berubah untuk mengharapkan ridho Allah,…
Karena jika tak ada niat dan tekad yang kuat,…
Bertahun – tahun pun engkau akan berada dalam jeratan yang sama…..
Semua menjadi sia –sia….
Saudariku,…
Jangan pula engkau katakan,… bahwa dialah cinta terakhirmu….
Saudariku,. Engkau kah yang berhak mengatur cinta pertama dan terakhir???
Bukan rasa cinta itu anugerah yang Indah dari Allah….
Dan cukup Allah lah saja yang tau siapa cinta terakhirmu……
Jangan dahului ketentuan Allah untukmu,….
Cukup saudariku,…
Telah cukup dosa yang kita perbuat,….
Jika bukan karena Allah menaruh kasihan pada kita,…
Dan jika saja tiap dosa yang kita buat itu memberikan bekas luka di tubuh kita,..
Maka sungguh saat ini,..tubuh ini akan berbau busuk karena dosa – dosa itu,…
Tapi sungguh Allah itu Maha Pemurah,…
Maha Penyayang,,….
Hingga kini diri kita mulus tanpa luka….
Duhai saudariku,.. ku sudahi dulu surat ku ini,..
Insya Allah surat ku yang lain akan kuberikan jika engkau telah benar – benar meninggalkan cinta semu itu….
Saudarimu,.. di bumi Allah………………
Cairo-AlexandriA : Egypt
Kamis, 24 Juni 2010
Penyair Muda
Cerpen Andi .Muhammad Silakan Simak! 12/02/2007 Telah Disimak 1052 kali
Jika aku bertemu Tuhan, maka yang pertama kulakukan adalah memprotesNya. MenyalahkanNya. MenggugatNya. Aku kecewa karena doaku puluhan tahun lalu Ia kabulkan. Aku sungguh terluka. Karena saat itu aku tak sungguh-sungguh berdoa. Aku tak serius. Hanya bercanda. Seperti kata penyair yang tegak berteriak. Seakan suaranya membelah langit. Meluluh-lantak bumi.
"Aku bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Ketika hujan turun dari langit seperti kaki-kaki merpati yang bermain di seng rumah. Ketika halilintar menyambar lalu cicak di pohon kelapa gemetar. Ketika sepi mencekam lalu aku mulai berpikir bunuh diri. Tuhan menuntunku mandi ke kali, bermain air yang keruh karena hujan belum reda sejak pagi dan aku menjadi lupa bunuh diri."
Aku kecewa karena cita-citaku menjadi penyair Ia kabulkan. Apa enaknya jadi penyair? Dan sialnya ini menjadi semacam garis takdir yang tak mungkin kutolak. Tak bisa kusiasati. Ideku seakan mati.
Puluhan perempuan menolak cintaku karena kebetulan aku penyair. Mereka tahu karena sering melihat namaku muncul di koran hari Minggu dan beberapa buku antologi puisi. Mereka membaca puisi-puisiku seakan membaca alur hidupku sendiri. Mereka kemudian sepakat mengatakan aku tukang gombal. Tukang tipu. Pembohong. Bahkan lebih dari itu, mereka menuduh pekerjaanku hanya menghayal belaka.
"Apa yang bisa kuandalkan darimu. Cinta tidak butuh puisi. Cinta tak memerlukan hayalan. Apa bisa kenyang dengan puisi?"
Siapa tidak kecewa disemprot seperti itu. Siapa tidak jengkel diremehkan seperti tai keledai yang bikin sengak jalanan. Tapi, apa benar aku hanya berhayal? Tidak! Aku tidak berhayal. Aku hanya bermimpi. Lalu apa bedanya hayal dan mimpi? Entahlah!
Menjadi penyair layaknya sebuah kutukan bagiku. Cita-citaku waktu kecil menjadi presiden. Tapi ketika kulihat presiden di negeriku tidak ada yang becus dan sunguh-sungguh serius mengurusi bangsa, aku jadi takut. Aku tak lagi bercita-cita menjadi presiden. Aku tak mau menjadi seonggok daging yang dicaci-maki karena gagal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Apalagi jika kelak setelah aku menjabat, negeriku diliputi malapetaka karena hartanya kucuri, kukorupsi, kumakan sendiri, tentunya dengan mengeluarkan berbagai macam proposal fiksi. Maka cita-citaku kuubah menjadi pilot.
Aku sering membayangkan terbang ke mana-mana. Melihat dunia dari kaki langit. Jalan-jalan ke Eropa dan Amerika. Menunaikan ibadah haji ke Mekah setiap tahun. Atau sesekali mampir di Taj Mahal, tembok raksasa di Cina, bahkan ke Casablanca, sebuah kota di benua Afrika yang membuatku berdecak kagum karena nama itu menjadi nama parfum kesukaanku. Tentu enak bukan? Apalagi itu semua kulakukan gratis. Cuma-cuma!
Tapi cita-citaku menjadi pilot kugagalkan. Aku ngeri melihat belakangan ini di negeriku pesawat berjatuhan seperti daun di musim gugur. Ada yang hilang tanpa ketahuan rimbanya. Ada yang gagal take off karena mesin rusak parah. Bahkan ada yang jungkir balik ketika landing. Roda pesawat copot karena baut lupa dipasang. Belum lagi anganku jalan-jalan ke Eropa terancam gagal. Pesawat dari negeriku tidak diperkenankan terbang ke sana karena alasan keselamatan. Orang-orang Eropa tidak mau ambil risiko jika suatu saat hal-hal yang sangat ngeri terjadi. Misalnya saja, pesawat dari negeriku jatuh di kota Paris atau London karena mesin tiba-tiba mati.
Begitu juga keinginanku beribadah haji tiap tahun. Arab Saudi, sahabat terbaik negeriku, tiba-tiba berubah. Aku tak mengerti mengapa dia ikut-ikutan mem-black list pesawat dari negeriku. Burung Garuda mendapat lampu merah.
Membuat Menteri Goda Gado belingsatan seperti cacing kepanasan. Ratusan ribu jamaah haji akan ia gagalkan jika burung Garuda benar-benar tak diijinkan terbang ke Arab Saudi. Terang saja karena haji adalah area bisnis paling basah. Tak perlu keringat tapi uang akan melimpah. Begitulah barangkali. Karena hidup di negeriku sebagian besar diliputi oleh kata barangkali. Ah!
Lalu dalam keadaan seperti itu, menjadi pilot sama saja mimpi buruk. Tidak ada enaknya! O...aku mau jadi tentara saja. Oh...tidak! Aku tak mau jadi tentara. Dulu aku sering melihat mereka membunuhi mahasiswa. Entah mengapa, menyebut kata tentara saja bulu kudukku berdiri. Terang karena berita yang kudengar tentang mereka adalah yang jelek-jelek melulu. Mereka membunuh saudara sendiri di mana-mana. Bahkan baru-baru ini, di sebuah pelosok di Jawa Timur, beberapa tentara menyarangkan peluru dengan bangganya ke dada rakyat tak berdosa. Dan konyolnya lagi, itu disanggah sebagai pelanggaran berat hak azasi manusia. Sungguh malang hidup di negeri penuh ironi!
Maka kutukan itu menjelmalah. Aku memilih menjadi penyair. Seorang penyair datang ke sekolahku. Membaca puisi-puisinya. Aku tak sadar bahwa yang dibaca adalah imajinasi bukan cerita hidup sendiri. Dalam puisi itu aku dengar penyair menjadi Dewa Penyelamat. Penyair berpakansi bukan saja ke Eropa atau Amerika. Akan tetapi ke planet Mars bahkan ke surga sekaligus. Penyair tidak hanya bercinta dengan perempuan-perempuan tercantik di dunia. Melainkan dengan Dewi Venus dan bidadari surga sekalian. Penyair bisa bolak-balik ke Mekah tiap hari untuk haji. Kudengar mereka sering bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Sungguh enaknya bukan main. Tapi ternyata tidak begitu! Dan itu kusadari setelah aku dikerangkeng dalam dunia penyair dan tak mungkin lari.
Kusadari semua hanya imaji belaka ketika aku sudah benar-benar gila. Semua orang bilang aku tidak waras. Aku terjangkit maniak depresi sangat akut, sindrom bipolar. Suasan hati tak menentu dan berubah-ubah, dari euforia berlebihan menjadi putus asa tak hingga. Aku menjadi sangat tertekan dengan setiap imajinasi dalam puisiku. Dan aku mulai berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri. Mengikuti jejak seniman seperti, Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, dan Virginia Woolf, yang gagal berperang dengan dirinya kemudian mengakhiri hidup dengan tragis. Seluruh waktu dan tenagaku hampir habis terkuras mencari jalan paling damai menuju mati, selain tanpa henti berpuisi.
Bagiku puisi adalah darah yang jika berhenti mengalir berarti aku telah mati. Nasib sial sungguh! Dalam puisi-puisiku aku bahkan menginginkan mati. "Aku ingin mati, Tuhan/ tuk menemu Mu//mari... mari sudahi sandiwara/ tak tahan kuingin bermesra/ kita bersua//hangus mampus/ diriku padaMu tak berdaya//rapuh lepuh/ diriku padaMu hilang musnah.//"
Detik-detik dalam hidupku adalah sakaratulmaut. Prosesi menuju mati. Aku memesan peti mati dari kayu jati. Melihat ulahku, Ayah mengurungku dalam kamar. Benda-benda tajam dijauhkan dari jangkauanku. Jendela kaca diganti kayu kemudian dipaku dengan keras. Pintu kamar dikunci, digembok. Di kamarku aku nyaris tak berteman. Kecuali dengan spidol hitam, kertas lusuh, pensil yang tintanya mewangi, dan tentu saja bayanganku sendiri yang sering kuajak diskusi.
Maka setiap aku ekstasi untuk mati, tidak ada hal lain kulakukan kecuali menulis puisi. Dinding kamarku adalah sahabat paling setia yang pernah kutemui. Dia diam saja ketika tanganku gatal kemudian menulisi kulitnya yang putih bersih dengan spidol hitam. Yang kutulis bukan hanya puisi sendiri, tapi juga puisi orang-orang terkenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Umar Khayyam.
"Di kamar ini pernah tinggal/ sebuah jiwa yang terus menyala.//Ditemani tawa-tawa palsu/ sambil tangan dan pena/ saling bersiasat untuk menulis apa saja/ di dindingnya;/ dinding tak jadi dicat merah!//"
"Kamar begini,/ 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!""barangkali hidup adalah/ doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras./ ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;/ ia pun bergegas.//
"Bangunlah, Cintaku, bangun! Fajar cerlang tiba/ Reguk anggur perlahan-lahan dan petik kecapi/ Tak ada nyawa yang abadi di tempat ini/ Di antara mereka yang pergi, tak seorang pun kembali//"
Aku lelah. Aku hilang arah. Aku frustasi. Aku ingin lekas mati.
*****
Jika aku bertemu Tuhan saat ini, maka yang pertama akan kulakukan adalah menciumNya. MemelukNya. Berterima kasih padaNya. Aku sungguh beruntung karena doaku Ia kabulkan. Doa yang tidak serius untuk menjadi penyair. Aku sungguh beruntung. Melebihi apa yang akan kucapai jika aku menjadi presiden, pilot, atau tentara. Anugerah apa pula yang paling berharga bagi lelaki kecuali istri cantik penuh cinta nan setia? Ahai...! Hanya satu perempuan yang sungguh menerima cintaku. Dan aku tak butuh lebih dari itu.
"Mas tahu aku cinta karena apa?" tanya teman wanitaku . "Karena aku kasihan Mas mau bunuh diri?" jawabku.
"Bukan itu. teman ku jawab ; jatuh cinta karena puisi-puisi Mas yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa," ucap Anjani tersenyum dan lesung pipitnya menggodaku seketika. "Mas dapat inspirasi dari mana?" lanjutnya lagi.
"Inspirasi tak cukup membuat seorang penyair melahirkan karya. Ia mesti punya motivasi."
teman wanita ku mengernyitkan dahi. Pandangnya yang serupa cahaya bening bintang kejora mengarah padaku. Ia menunggu lanjutan kalimatku.
"Hidup yang direnungkan adalah inspirasi terbesarku. Dan senyummu adalah motivasi yang paling nyata," terangku dengan mimik sangat serius. Di luar malam makin lelap.
Cinta membuat perang dunia kelihatan sederhana!***
Kairo, Buus Indah Permai; Jumat 11:40
Jika aku bertemu Tuhan, maka yang pertama kulakukan adalah memprotesNya. MenyalahkanNya. MenggugatNya. Aku kecewa karena doaku puluhan tahun lalu Ia kabulkan. Aku sungguh terluka. Karena saat itu aku tak sungguh-sungguh berdoa. Aku tak serius. Hanya bercanda. Seperti kata penyair yang tegak berteriak. Seakan suaranya membelah langit. Meluluh-lantak bumi.
"Aku bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Ketika hujan turun dari langit seperti kaki-kaki merpati yang bermain di seng rumah. Ketika halilintar menyambar lalu cicak di pohon kelapa gemetar. Ketika sepi mencekam lalu aku mulai berpikir bunuh diri. Tuhan menuntunku mandi ke kali, bermain air yang keruh karena hujan belum reda sejak pagi dan aku menjadi lupa bunuh diri."
Aku kecewa karena cita-citaku menjadi penyair Ia kabulkan. Apa enaknya jadi penyair? Dan sialnya ini menjadi semacam garis takdir yang tak mungkin kutolak. Tak bisa kusiasati. Ideku seakan mati.
Puluhan perempuan menolak cintaku karena kebetulan aku penyair. Mereka tahu karena sering melihat namaku muncul di koran hari Minggu dan beberapa buku antologi puisi. Mereka membaca puisi-puisiku seakan membaca alur hidupku sendiri. Mereka kemudian sepakat mengatakan aku tukang gombal. Tukang tipu. Pembohong. Bahkan lebih dari itu, mereka menuduh pekerjaanku hanya menghayal belaka.
"Apa yang bisa kuandalkan darimu. Cinta tidak butuh puisi. Cinta tak memerlukan hayalan. Apa bisa kenyang dengan puisi?"
Siapa tidak kecewa disemprot seperti itu. Siapa tidak jengkel diremehkan seperti tai keledai yang bikin sengak jalanan. Tapi, apa benar aku hanya berhayal? Tidak! Aku tidak berhayal. Aku hanya bermimpi. Lalu apa bedanya hayal dan mimpi? Entahlah!
Menjadi penyair layaknya sebuah kutukan bagiku. Cita-citaku waktu kecil menjadi presiden. Tapi ketika kulihat presiden di negeriku tidak ada yang becus dan sunguh-sungguh serius mengurusi bangsa, aku jadi takut. Aku tak lagi bercita-cita menjadi presiden. Aku tak mau menjadi seonggok daging yang dicaci-maki karena gagal memberi kesejahteraan bagi rakyatnya. Apalagi jika kelak setelah aku menjabat, negeriku diliputi malapetaka karena hartanya kucuri, kukorupsi, kumakan sendiri, tentunya dengan mengeluarkan berbagai macam proposal fiksi. Maka cita-citaku kuubah menjadi pilot.
Aku sering membayangkan terbang ke mana-mana. Melihat dunia dari kaki langit. Jalan-jalan ke Eropa dan Amerika. Menunaikan ibadah haji ke Mekah setiap tahun. Atau sesekali mampir di Taj Mahal, tembok raksasa di Cina, bahkan ke Casablanca, sebuah kota di benua Afrika yang membuatku berdecak kagum karena nama itu menjadi nama parfum kesukaanku. Tentu enak bukan? Apalagi itu semua kulakukan gratis. Cuma-cuma!
Tapi cita-citaku menjadi pilot kugagalkan. Aku ngeri melihat belakangan ini di negeriku pesawat berjatuhan seperti daun di musim gugur. Ada yang hilang tanpa ketahuan rimbanya. Ada yang gagal take off karena mesin rusak parah. Bahkan ada yang jungkir balik ketika landing. Roda pesawat copot karena baut lupa dipasang. Belum lagi anganku jalan-jalan ke Eropa terancam gagal. Pesawat dari negeriku tidak diperkenankan terbang ke sana karena alasan keselamatan. Orang-orang Eropa tidak mau ambil risiko jika suatu saat hal-hal yang sangat ngeri terjadi. Misalnya saja, pesawat dari negeriku jatuh di kota Paris atau London karena mesin tiba-tiba mati.
Begitu juga keinginanku beribadah haji tiap tahun. Arab Saudi, sahabat terbaik negeriku, tiba-tiba berubah. Aku tak mengerti mengapa dia ikut-ikutan mem-black list pesawat dari negeriku. Burung Garuda mendapat lampu merah.
Membuat Menteri Goda Gado belingsatan seperti cacing kepanasan. Ratusan ribu jamaah haji akan ia gagalkan jika burung Garuda benar-benar tak diijinkan terbang ke Arab Saudi. Terang saja karena haji adalah area bisnis paling basah. Tak perlu keringat tapi uang akan melimpah. Begitulah barangkali. Karena hidup di negeriku sebagian besar diliputi oleh kata barangkali. Ah!
Lalu dalam keadaan seperti itu, menjadi pilot sama saja mimpi buruk. Tidak ada enaknya! O...aku mau jadi tentara saja. Oh...tidak! Aku tak mau jadi tentara. Dulu aku sering melihat mereka membunuhi mahasiswa. Entah mengapa, menyebut kata tentara saja bulu kudukku berdiri. Terang karena berita yang kudengar tentang mereka adalah yang jelek-jelek melulu. Mereka membunuh saudara sendiri di mana-mana. Bahkan baru-baru ini, di sebuah pelosok di Jawa Timur, beberapa tentara menyarangkan peluru dengan bangganya ke dada rakyat tak berdosa. Dan konyolnya lagi, itu disanggah sebagai pelanggaran berat hak azasi manusia. Sungguh malang hidup di negeri penuh ironi!
Maka kutukan itu menjelmalah. Aku memilih menjadi penyair. Seorang penyair datang ke sekolahku. Membaca puisi-puisinya. Aku tak sadar bahwa yang dibaca adalah imajinasi bukan cerita hidup sendiri. Dalam puisi itu aku dengar penyair menjadi Dewa Penyelamat. Penyair berpakansi bukan saja ke Eropa atau Amerika. Akan tetapi ke planet Mars bahkan ke surga sekaligus. Penyair tidak hanya bercinta dengan perempuan-perempuan tercantik di dunia. Melainkan dengan Dewi Venus dan bidadari surga sekalian. Penyair bisa bolak-balik ke Mekah tiap hari untuk haji. Kudengar mereka sering bergurau dengan Tuhan ketika malam menjadi kelam. Sungguh enaknya bukan main. Tapi ternyata tidak begitu! Dan itu kusadari setelah aku dikerangkeng dalam dunia penyair dan tak mungkin lari.
Kusadari semua hanya imaji belaka ketika aku sudah benar-benar gila. Semua orang bilang aku tidak waras. Aku terjangkit maniak depresi sangat akut, sindrom bipolar. Suasan hati tak menentu dan berubah-ubah, dari euforia berlebihan menjadi putus asa tak hingga. Aku menjadi sangat tertekan dengan setiap imajinasi dalam puisiku. Dan aku mulai berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan bunuh diri. Mengikuti jejak seniman seperti, Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, dan Virginia Woolf, yang gagal berperang dengan dirinya kemudian mengakhiri hidup dengan tragis. Seluruh waktu dan tenagaku hampir habis terkuras mencari jalan paling damai menuju mati, selain tanpa henti berpuisi.
Bagiku puisi adalah darah yang jika berhenti mengalir berarti aku telah mati. Nasib sial sungguh! Dalam puisi-puisiku aku bahkan menginginkan mati. "Aku ingin mati, Tuhan/ tuk menemu Mu//mari... mari sudahi sandiwara/ tak tahan kuingin bermesra/ kita bersua//hangus mampus/ diriku padaMu tak berdaya//rapuh lepuh/ diriku padaMu hilang musnah.//"
Detik-detik dalam hidupku adalah sakaratulmaut. Prosesi menuju mati. Aku memesan peti mati dari kayu jati. Melihat ulahku, Ayah mengurungku dalam kamar. Benda-benda tajam dijauhkan dari jangkauanku. Jendela kaca diganti kayu kemudian dipaku dengan keras. Pintu kamar dikunci, digembok. Di kamarku aku nyaris tak berteman. Kecuali dengan spidol hitam, kertas lusuh, pensil yang tintanya mewangi, dan tentu saja bayanganku sendiri yang sering kuajak diskusi.
Maka setiap aku ekstasi untuk mati, tidak ada hal lain kulakukan kecuali menulis puisi. Dinding kamarku adalah sahabat paling setia yang pernah kutemui. Dia diam saja ketika tanganku gatal kemudian menulisi kulitnya yang putih bersih dengan spidol hitam. Yang kutulis bukan hanya puisi sendiri, tapi juga puisi orang-orang terkenal seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Umar Khayyam.
"Di kamar ini pernah tinggal/ sebuah jiwa yang terus menyala.//Ditemani tawa-tawa palsu/ sambil tangan dan pena/ saling bersiasat untuk menulis apa saja/ di dindingnya;/ dinding tak jadi dicat merah!//"
"Kamar begini,/ 3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!""barangkali hidup adalah/ doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras./ ia merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;/ ia pun bergegas.//
"Bangunlah, Cintaku, bangun! Fajar cerlang tiba/ Reguk anggur perlahan-lahan dan petik kecapi/ Tak ada nyawa yang abadi di tempat ini/ Di antara mereka yang pergi, tak seorang pun kembali//"
Aku lelah. Aku hilang arah. Aku frustasi. Aku ingin lekas mati.
*****
Jika aku bertemu Tuhan saat ini, maka yang pertama akan kulakukan adalah menciumNya. MemelukNya. Berterima kasih padaNya. Aku sungguh beruntung karena doaku Ia kabulkan. Doa yang tidak serius untuk menjadi penyair. Aku sungguh beruntung. Melebihi apa yang akan kucapai jika aku menjadi presiden, pilot, atau tentara. Anugerah apa pula yang paling berharga bagi lelaki kecuali istri cantik penuh cinta nan setia? Ahai...! Hanya satu perempuan yang sungguh menerima cintaku. Dan aku tak butuh lebih dari itu.
"Mas tahu aku cinta karena apa?" tanya teman wanitaku . "Karena aku kasihan Mas mau bunuh diri?" jawabku.
"Bukan itu. teman ku jawab ; jatuh cinta karena puisi-puisi Mas yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa," ucap Anjani tersenyum dan lesung pipitnya menggodaku seketika. "Mas dapat inspirasi dari mana?" lanjutnya lagi.
"Inspirasi tak cukup membuat seorang penyair melahirkan karya. Ia mesti punya motivasi."
teman wanita ku mengernyitkan dahi. Pandangnya yang serupa cahaya bening bintang kejora mengarah padaku. Ia menunggu lanjutan kalimatku.
"Hidup yang direnungkan adalah inspirasi terbesarku. Dan senyummu adalah motivasi yang paling nyata," terangku dengan mimik sangat serius. Di luar malam makin lelap.
Cinta membuat perang dunia kelihatan sederhana!***
Kairo, Buus Indah Permai; Jumat 11:40
Langganan:
Postingan (Atom)